
GEREJANI DOT COM - Lomba Karya Tulis Jurnalistik kerjasama Ditjen Bimas Kristen Kemenag RI, GUKI (Guru Kristen Indonesia), dan Jurnalis Kristiani, saat ini sudah menetapkan 10 karya yang akan dipilih secara terbuka melalui akses GUKI, untuk menjadi tulisan pemenang favorit.
Berikut satu tulisan dari 10 karya terbaik yang dapat dipilih sebagai Tulisan Terfavorit, berjudul "Kalah Oleh Algoritma?"
“Kalau aku sedih, biasanya aku suka cerita ke Mama dan Bu guru, bukan ke AI. AI itu kan adanya di HP, ga bisa peluk aku.” kata seorang murid berdasi merah dengan jujur dan vokal di riuh taman kanak-kanak.
Di area lain, seorang murid dengan langkah setengah berlari menjawab seirama langkahnya: baginya guru bukan sekadar pengajar mata pelajaran, melainkan tempat bersandar ketika dunia terasa berat.
“Seseorang yang membentuk sikap, menjadi teman bercerita, dan menghadirkan rasa aman.”
Selain itu, seorang alumni yang sedang menempuh pendidikan keguruan, menjawab pertanyaan serupa dengan lebih reflektif: dunia boleh saja diserbu kecerdasan buatan yang bisa menjelaskan pelajaran cepat dan lebih lengkap dari manusia, tapi ada satu hal yang tidak pernah bisa ditiru sebuah algoritma.
“Kehadiran yang tulus, yang mau duduk, mendengar, dan tetap ada meski muridnya sedang tidak baik-baik saja.” Pertanyaan itu melucuti jubah ilmiahnya. Gaung kegelisahan mengenai “AI menggantikan posisi guru” membubung di tingkat nasional.
Melansir laporan CNBC Indonesia
(Mei 2026), Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen menyatakan secanggih apa pun teknologi berkembang, interaksi guru dan siswa tak dapat digantikan oleh AI.
Pandangan senada dinyatakan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, melalui Tribunnews (Juli 2026), bahwa esensi pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi membentuk karakter, integritas, dan nilai kehidupan setiap murid.
Selama diskusi nasional berjalan, diskusi dialami sebagian orang tua sebagai pendidik utama dan guru di rumah kedua, pertanyaan yang tak terjawab melalui rapat panel dan konferensi, tetapi melalui interaksi nyata di rumah dan di ruang kelas, serta air mata yang tersembunyi dari
khalayak ramai.
Kisah nyata ini dialami oleh Bu Fanny, seorang pendidik Kristen yang telah
mendedikasikan hidupnya dalam dunia pendidikan Kristen lebih dari lima belas tahun, menapaki panggilannya di tepian teluk Ambon. Sekolah dengan fasilitas yang terbatas, ruang kelas tanpa pendingin, dan perjuangan murid untuk sampai ke sekolah pun tidak mudah.
Namun, di balik realitas pahit itu, gawai sudah berada di genggaman mereka. Kondisi lain yang Bu Fanny pernah alami ialah layar yang dibiarkan berada dalam genggaman sepanjang hari karena kesibukan orang tua. Situasi ini membuat Bu Fanny harus memutar otak setiap hari.
Ia menanamkan prinsip “Teknologi dan masifnya penggunaan gadget pada dunia pendidikan perlu dibenahi, bukan dihindari tapi dikuasai oleh guru itu sendiri.”
Terlintas di benak Bu Fanny, kala seorang murid yang dulu sulit diatur dan kerap
membuatnya kewalahan, datang dengan mata berkaca-kaca. Anak yang dulu nyaris tak pernah menatap matanya saat ditegur, kini berdiri dihadapan Bu Fanny sambil berkata: terima kasih telah menariknya kembali ke dunia nyata.
“Kalau guru angkat tangan dan berdiam diri dengan kemajuan teknologi, siapa yang akan mendampingi anak-anak ini?” Ucapannya terjeda sebentar, diam yang mengandung pemahaman mendalam kegelisahan dunia pendidikan di era AI.
Bagi Bu Fanny, memori itu bukan sekadar keberhasilan pedagogis. Ia adalah wujud nyata dari panggilan Ilahi yang Tuhan
percayakan. Menjadi seorang guru Kristen bukan sebatas profesi mendidik murid, tetapi lebih dari itu setiap murid yang duduk di ruang-ruang kelas adalah manusia berdosa yang telah ditebus, dan perlu dituntun kepada Sang Sumber Hidup melalui pengetahuan sejati.
Layaknya benih yang harus mendekam di kegelapan tanah sebelum berbuah, Bu Fanny juga percaya bahwa proses pembentukan karakter murid membutuhkan kesabaran bertahun-tahun sebelum buahnya benar-benar terlihat nyata.
“Saya tidak takut digantikan AI,” sambung Bu Fanny dengan sorot matanya berbinar hangat “karena peran guru melampaui transfer ilmu. Guru Kristen dipanggil untuk menuntun murid bertumbuh dalam kasih dan pengharapan, bukan hanya dalam angka.”
Bagi Bu Fanny, pelayanan membentuk karakter murid adalah mandat ilahi yang tidak akan bisa diserahkan kepada mesin tercanggih sekalipun. Di balik satu cerita ini, tersimpan gunung es realitas serupa.
Bu Juli, seorang guru Kristen yang telah mendedikasikan dirinya sejak tahun 2004, menangkap arah baru transformasi dunia pendidikan: tujuan pendidikan tidak lagi milik deretan angka, melainkan milik akhlak anak bangsa.
“Melihat murid yang mudah tersulut emosi menjadi penyejuk suasana bagi sesama adalah momen yang membuat saya menangis bahagia” katanya. Bahkan,
bagi Bu Juli melalui pengajaran Fisika pun murid perlu menemukan keagungan Allah dalam menggerakkan roda semesta. Bukan sekadar rumus yang dihafal untuk ujian, tetapi menjadi algoritma tindakan untuk membangun manusia unggul iman, ilmu, dan karakter.
Pak Teo dan Bu Mentari satu suara: Di era banjir informasi instan seperti sekarang, murid bisa mudah tersesat jika kehilangan figur guru Kristen yang menuntun mereka menyaring kebenaran. Kekhawatiran itu ternyata bergema pula dari rumah.
“Kalau sekolah makin mengandalkan AI, yang paling saya khawatirkan anak jadi malas berpikir sendiri,” ujar Mama
Azka. Harapan besarnya ialah melihat semua guru tetap hadir menyentuh hati murid, memberi rasa secara personal, dan bukan cuma mentransfer isi buku, sebab nilai tinggi tidak berarti banyak tanpa karakter yang kuat.
Ada kenangan manis yang Mama Azka ingat, tentang Azka yang pemalu, tetapi berubah menjadi Azka yang bersemangat dan penuh percaya diri. Semua itu bermula dari hal sederhana sebuah sapaan kecil sarat perhatian yang dihadiahkan sang guru tanpa absen setiap hari.
Di balik kekhawatiran para orang tua dan guru, ada satu kebenaran yang tak lekang oleh waktu. Sentuhan kemanusiaan kasih yang menari di antara baris angka rapor dan tatapan mata seorang murid tidak akan bisa digantikan oleh mesin.
Lewat sapaan dan doa, guru menuntun
anak-anak menyeberangi samudera ketidaktahuan, menyelamatkan mimpi mereka dari derasnya arus digital. Saban sore di ruang kelas itu, yang tertinggal bukan sekadar materi pelajaran, melainkan keberanian untuk menapak di tengah zaman yang berubah. Ini adalah tentang
menyuarakan mereka yang dulu dibungkam keraguan, dan membuktikan bahwa kasih sejati guru tidak akan pernah pudar, bahkan saat algoritma diperbarui setiap hari.
Dari meja pimpinan, benang merah itu bermuara pada satu visi besar. Kepala sekolah Ibu Whitney menegaskan bahwa, guru masa depan harus peka secara personal, lentur terhadap perubahan, peduli dengan sesama, dan terus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Karakter
unggul itu ia rangkum dalam tiga kata: rasa hormat, tanggung jawab, dan kesiapsediaan.
Tiga kata yang terdengar sederhana, namun menuntut tingkat kesabaran dan curahan kasih tertinggi ketika harus dihidupkan di depan kelas setiap hari.
Semua kisah ini kembali pada satu pertanyaan: kalah oleh algoritma? Siapa yang kalah? dan siapa yang menang ?Menang dan kalah dalam pusaran teknologi hari ini adalah soal
bagaimana kita menggambar batas.
Algoritma unggul dalam aspek mekanis, dalam sekejap ia dapat menjawab apa arti guru Kristen mencerdaskan, membentuk karakter, dan mencetak generasi unggul bagi Kristus. Namun, disinilah guru Kristen membawa “algoritma iman” yang menuntun kehidupan. Menanamkan karakter yang berakar teguh pada iman kepada Kristus (unggul iman), maka unggul ilmu akan mengikuti secara natural karena pengetahuan sejati tidak berasal dari kecerdasan buatan, tetapi hikmat dari Allah, serta dari akar iman inilah buah
unggul karakter itu menjadi nyata.
Kitab Amsal berpesan, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Pesan itu telah berumur ribuan tahun, jauh sebelum AI masuk dalam diskusi manusia, namun gaung maknanya justru semakin relevan di hari ini.
Dalam lembar terakhir kisah ini, biarlah semua guru dapat berefleksi dan terinspirasi bahwa ruang kelas yang jauh dari sorotan dan hari panjang yang melelahkan dapat dipakai oleh
Tuhan sebagai tempat kudus untuk membentuk jiwa, mengukir karakter, dan menuntun generasi masa depan kembali kepada Sang Sumber Hidup.
Jawaban paling jujur itu datang dari mulut murid-murid yang pernah duduk di kelas Bu Fanny sendiri, yang masih mengingat cara
gurunya mengajar dengan sabar berulang-ulang, mereka percaya bahwa semua murid tetap membutuhkan human touch melalui kehadiran nyata seorang guru Kristen. (DPT)
-
- Log in to post comments