Skip to content Skip to navigation

RAKERNAS PGIW-SAG 2022, SRI SULTAN HB X : "TIGA ASPEK PENTING KEBERAGAMAN DI INDONESIA, BAHASA, AGAMA, DAN KEPERCAYAAN"

Gerejani Dot Com - Rapat Kerja Nasional Persekutuan Gereja-gereja Wilayah – Sinode Am Gereja (Rakernas PGIW-SAG) se-Indonesia berlangsung di Yogya, 11-14 Agustus 2022, bertempat di Kampus UKDW Yogyakarta, mengusung tema besar “Akulah Yang Awal dan Yang Akhir”, dengan subtema Spiritualitas Keugaharian, Membangun Keadaban Publik demi Pemeliharaan Bumi sebagai Sacramentum Allah.

Rakernas PGI-W se-Indonesia tahun 2022, dari 29 PGI-W seluruh Indonesia, hadir 25 PGI-W, dan sisanya mengikuti secara daring. Seluruh kegiatan Rakernas PGIW-SAG dipusatkan di Auditorium Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta.

Pemilihan Yogyakarta sebagai tuan rumah Rakernas PGIW-SAG, menurut Ketua Panitia Rakernas PGIW-SAG Drs. Purnawan Hardiyanto, M.Ec. Dev, karena dapat merepresentasikan atau sebagai miniatur Indonesia.

“Masyarakatnya sangat majemuk, beragam, dan relatif rukun. Tidak ada gesekan antar umat beragama dan lain sebagainya. Ini yang menjadi dasar PGIW dari seluruh Indonesia belajar dari Yogyakarta,” ujar Purnawan, usai beraudiensi dengan Gubernur DIY, Jumat (8 Juli 2022) di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.

Sementara Sekretaris Umum PGI, Pdt. Dr. (Hon.) Jacklevyn Frits Manuputty, S.Th., S.Fil., MA, saat jumpa pers di Auditorium UKDM Sabtu (13 Agustus 2022), menjelaskan tantangan gereja-gereja di Indonesia saat ini.

 “Tantangan gereja-gereja di Indonesia saat ini dengan berbagai persoalan, diantaranya kemiskinan, ketidakadilan, radikalisme, terorisme, perusakan lingkungan, konflik agraria dan masyarakat adat, human trafficking, politik identitas dan primodialisme. Juga isu perempuan dan anak, serta krisis keesaan gereja,” terang Pdt Jacky, sebagaimana diberitakan krjogja.com.

Pdt Jacky didampingi Ketua MPH PGI-W Yogya Pdt. (Em.) Bambang Sumbodo S.Th., M.Min, Ketua Umum Panitia Drs. Purnawan Hardiyanto, M.Ec.Dev, dan Tim Humas dengan moderator Agus Wid, Pdt Jacky menegaskan di tengah berbagai persoalan itu, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menetapkan tema 2019-2024 : Aku adalah yang Awal dan yang Akhir (Wahyu 22:12-13), yang menunjukkan bahwa di tengah kesulitan ada Providentia Dei, ada janji Tuhan, bahkan kepastian.

“Setiap wilayah mempunyai tantangan-tantangan pelayanan berbeda-beda. Yogyakarta dipilih sebagai tuan rumah karena secara geopolitik dan kultural, Yogya memberikan kontribusi positif terhadap dinamika kehidupan nasional, sebagai Kota Pendidikan dan Kota Budaya, mewujudkan Yogya sebagai City of Tolerance,” lanjut Pdt Jacky.

Arahan Sri Sultan Hamengkubuwono X

Sri Sultan Hamengkubuwono X yang juga adalah Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi Keynote Speech dengan topik “Pluralisme dalam Keniscayaan Umat Beragama”.

Peserta berkesempatan berdialog langsung dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X sebelum pembukaan Rakernas. Delegasi PGI-W dari penjuru Indonesia diterima dan disambut hangat Sri Sultan HB X, Jumat (12 Agustus 2022) di Bangsal Srimanganti, Kraton, pukul 09.00 WIB. Turut hadir Plh. Sekda DIY Bidang Administrasi dan Umum Beny Suharsono.

Pada hakikatnya keberagaman adalah konsep Tuhan dalam misteri penciptaan alam semesta ini. Tidak ada satu ciptaan-Nya yang identik sama, pasti ada banyak perbedaan meskipun sekilas nampak sama. Dalam hal ini, sangatlah jelas bahwa keberagaman dan pluralitas merupakan realita yang terjadi atas kehendak Sang Adikodrati, demikian disampaikan Sri Sultan HB X kepada 120 peserta Rakernas PGIW-SAG 2022, yang berasal dari 28 provinsi di Indonesia, hadir di Bangsal Srimanganti, Kraton Yogyakarta, pada Jumat (12 Agustus 2022).

Lanjut Sri Sultan, keberagaman sejatinya merupakan sesuatu yang sepatutnya disyukuri. “Saat kita membicarakan sebuah negara, maka keberagaman adalah sebuah keniscayaan yang sudah seharusnya kita hargai dan kita syukuri. Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang besar dengan keniscayaan keberagaman,” terang Sri Sultan HB X.

Sri Sultan HB X menegaskan terdapat tiga aspek penting terkait dengan keberagaman di Indonesia, yakni : Bahasa, Agama, dan Kepercayaan.

“Ketiganya dapat semakin kokoh jika dilandasi semangat Bhinneka Tunggal Ika. Bhinneka Tunggal Ika jangan hanya dijadikan mitos, tetapi hendaknya dijadikan etos bangsa untuk ‘memperkokoh kebangsaan’ di tengah tarikan globalisasi budaya,” tandas Sri Sultan HB X.

Lebih lanjut Sri Sultan HB X mengemukakan, “Indonesia, bukanlah hanya sekedar nama-nama atau gambar deretan pulau-pulau di peta dunia. Tetapi sebuah kekuatan dahsyat yang disegani oleh bangsa-bangsa lain dengan penuh hormat. Inilah realitas kebhinekaan budaya-budaya kita, yang selain sebagai kekayaan, juga mengekspresikan Kemerdekaan Indonesia di bidang budaya,” tegas Sri Sultan HB X.

Hal lain yang juga menjadi landasan bertindak dan penting untuk dilakukan adalah penerapan nilai-nilai saling mengasihi dan menghargai sesama yang beragam demi terwujudnya kedamaian. “Perlakukanlah setiap orang sebagaimana kamu sendiri ingin diperlakukan orang lain,” tutup Sri Sultan HB X.

Narasumber Dialog Rakernas-SAG

Selain dengan Sri Sultan HB X, peserta juga akan berdialog dengan Ketum PP Muhammadiyah KH. Haedar Nashir, dan Ketua Umum Nahdlatul Ulama KH. Yahya Cholil Staquf, selain itu, juga akan hadir pimpinan tiga universitas, yakni Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Rektor Universitas Kristen Duta Wacana, dan Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta.

Ketua PGIW DIY Pdt. Em Bambang Sumbodo, menyampaikan terima kasih kepada Ngarsa Dalem Sri Sultan HB X berkenan hadir dan memberikan arahan.

“Para tamu Rakernas kali ini berupaya membangun keadaban publik dengan pemeliharaan bumi, sebagaimana filosofi Memayu Hayuning Bawana, atau memperindah keindahan dunia, salah satunya dengan membangun karakter manusia,” jelas Ketua PGIW DIY Pdt. Em Bambang Sumbodo.

Ketua PGIW DIY Pdt. (Em.) Bambang Sumbodo, menegaskan sangat tepat apabila peserta Rakernas ‘ngangsu kawruh’ kepada Ngarsa Dalem, yang dengan kearifan lokal dapat menjaga dan merawat kerukunan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya.

Pdt. (Em.) Bambang Sumbodo turut mendoakan agar Sri Sultan HB X senantiasa diberkahi, untuk senantiasa mengemban amanah dengan baik, dan berharap Tuhan Yang Maha Kuasa selalu melindungi masyarakat Yogyakarta.

Ketua Panitia Rakernas Purnawan, menjelaskan identitas Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan dan Kota Budaya, serta semangat Pemerintah Daerah mewujudkan Yogyakarta sebagai “City of Tolerance” dinilai dapat menginspirasi gereja-gereja di Indonesia dalam melakukan penatalayanan secara holistik dan berkesinambungan, serta berdampak positif terhadap kehidupan umat Kristen yang visioner.

Rakernas PGIW se-Indonesia Tahun 2022 di Yogyakarta diharapkan menjadi momentum strategis guna melakukan konsolidasi, baik dalam perspektif struktur dan jejaring maupun dalam perspektif program yang membumi.

Purnawan menjelaskan selanjutnya, bahwa dengan semangat kerukunan beragama, narasumber forum dialog Rakernas, sebanyak 70 persen berasal dari kalangan muslim, diantaranya Ketua Umum PBNU diwakili Alissa Wahid, PP Muhammadiyah diwakili Prof. Syafiq Mughni, Sekum PGI Pdt Jacky Manuputty, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Yogya diwakili Dr Suhadi, Rektor UMY Yogya Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, MP. IPM, dan Rektor UKDW Ir. Henri Feriadi, M.Sc., PhD. Selain tokoh-tokoh lintas agama, juga turut menjadi narasumber Ketua Umum PGI, Pdt Gomar Gultom, M.Th.

Kegiatan Rakernas PGIW-SAG 2022 selain diisi berbagai forum dialog, juga akan ada sidang komisi, diskusi kelompok, sharing terfokus, dan presentasi hasil diskusi kelompok serta kesimpulan hasil diskusi kelompok, dan diakhiri dengan penyampaian Kesimpulan dan Rekomendasi Hasil Rekernas. Closing Remarks sebagai penutup rangkaian acara, akan disampaikan oleh KGPAA Paku Alam X di akhir acara Rakernas PGIW/SAG 2022, demikian penjelasan Purnawan. (DPT)

Share

Advertorial

Advertisement