Skip to content Skip to navigation

8 INSIGHT SURVEY BRC "10 DIMENSI KUALITAS KEPEMIMPINAN YANG BERDASARKAN RELASI"

Gerejani Dot Com - Bilangan Research Center (BRC) setelah merilis hasil Seri Survey Kepemimpinan Gereja - bagian 1, yakni tentang Tipe Kepemimpinan, belum lama ini mengeluarkan hasil Seri Survey Kepemimpinan Gereja - bagian 2, yakni mengenai 10 Dimensi Kualitas Kepemimpinan berdasarkan Relasi.
 
BRC telah melakukan survei terhadap 1.053 pimpinan gereja di Indonesia, pada periode Januari – April 2022, dengan metode online survey, margin of error sebesar 3.1%. Dari 1.399 total awal responden, berdasar filter data kontrol terhadap strata dan aliran, hanya 1.053 yang diproses lebih lanjut.
 
Responden survey terdiri dari 39,4% berlatar aliran pantekosta/kharismatik, 34,5% injili, dan 26,1% mainstream. Responden terbanyak dari wilayah Jabodetabek sebesar 25,7%, Jawa 26,3%, Sumatera 15,9%, Kalimantan 8,9%, Sulawesi 12,3%, Bali-Nusa Tenggara 5,4%, dan 5,5% Maluku-Papua.
 
Berikut disampaikan Ketua BRC Handi Irawan kepada redaksi, 8 Insight hasil dari bagian ke-2 dari Church Leadership Survey, yaitu mengenai 10 Dimensi Kualitas Kepemimpinan berdasarkan Relasi.
 
Para pemimpin gereja sudah cukup baik dalam hal dimensi kualitas  “MODELING HUMILITY“, "MASTER of COMMUNICATION", dan "LEADING WITH COURAGE" di gereja tempat mereka melayani.
 
Para pemimpin gereja perlu mengasah kemampuan lebih baik untuk dimensi kualitas: 
A. EMPOWERMENT
- Berani memberikan otoritas pengambilan keputusan kepada anggota tim.
- Terbiasa untuk memberdayakan anggota tim untuk memecahkan masalah, bukan hanya sekedar memberi tahu apa yang harus mereka lakukan.
 
B. LEADING PEERS
- Saling mempercayai antar pemimpin gereja.
- Mengelola perbedaan sehingga tetap kondusif dan produktif.
- Komitmen untuk mengerjakan sebuah tujuan bersama.
 
C. INNOVATION
- Membuat anggota tim memikirkan kembali ide-ide yang tidak pernah mereka tanyakan sebelumnya.
- Membuka kemungkinan bagi anggota tim untuk memecahkan masalah dengan pendekatan yang baru.
- Memberikan anggota tim cara-cara baru dalam melihat hal-hal yang kompleks.
 
Dalam hal SISTEM PEMILIHAN MAJELIS:
“SEPENUHNYA ditentukan oleh PIMPINAN yang ada“, dan “SEPENUHNYA dicalonkan dan dipilih oleh JEMAAT" : menghasilkan kualitas kepemimpinan yang PALING OPTIMAL, jika dibandingkan dengan sistem campuran antar keduanya.
 
Dalam hal INDEPENDENSI GEREJA LOKAL:
“SEMUA KEPUTUSAN ada di tangan SINODE“, dan “SEMUA KEPUTUSAN ada di tangan GEREJA LOKAL" : menghasilkan kualitas kepemimpinan yang PALING OPTIMAL, jika dibandingkan dengan sistem campuran antar keduanya.
 
Perlu adanya TRAINING yang BERKELANJUTAN, atau mungkin COACHING agar ILMU yang didapatkan para pemimpin gereja benar-benar dapat berdampak pada pelayanan.
 
Para pemimpin gereja perlu untuk tergabung dalam komunitas kepemimpinan, karena terbukti dapat melakukan “EMPOWERMENT“, “LEADING PEERS“, dan “INNOVATION” yang lebih baik.
 
Para pemimpin gereja yang memiliki mentor terbukti dapat melakukan “EMPOWERMENT“, “LEADING PEERS“, dan “INNOVATION” yang lebih baik.
 
Dan, insight 8 diutarakan Handi Irawan, bahwa  para pemimpin gereja perlu untuk dimentori sebelum memasuki jabatan kepemimpinan, agar dapat menghasilkan pemimpin yang memiliki KUALITAS “EMPOWERMENT“, “LEADING PEERS“, dan “INNOVATION”. (DPT)
Share

Advertorial

Advertisement