Skip to content Skip to navigation

SINODE AM GEREJA PROTESTAN DI INDONESIA GELAR DISKUSI DAN SOSIALISASI PENCOBLOSAN PEMILU 2019

Pelaksanaan hari pemungutan suara Pemilu Serempak 2019, tersisa beberapa hari saja. Pemilu 2019 sebagai pemilu bersejarah; pemilu yang pelaksanaan pileg dan pilpres secara serempak, akan diadakan pada 17 April 2019 untuk wilayah dalam negri, sementara diluarnegri, dimulai lebih awal, yakni pada 8-14 April 2019.

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bersama Sinode Am Gereja Protestan di Indonesia (GPI), dalam rangka mempersiapkan warga gereja khususnya, menjelang hari pemungutan suara Pemilu 2019, pada Jumat, 12 April 2019, pagi hingga sore melaksanakan seminar sehari pendidikan politik kepemiluan.

Kegiatan ini sedianya menghadirkan narasumber dari lingkungan gereja-gereja, seperti Sekum PGI Pdt. Gomar Gultom, Pdt. Martin Lukito Sinaga, D.Th (Dosen STFT Jakarta), dan Febry Calvin Tetelepta (Tenaga Ahli Utama KSP), Prof. Jimly Asshiddiqie (Ketua Umum ICMI), namun narasumber dari KPU dan Bawaslu batal hadir.

Acara tersebut diawali dengan ibadah, dipimpin Pdt. Mariene Joseph dengan topik memilih pemimpin sesuai dengan firman Tuhan, dengan nats dari Keluaran 18. Ditegaskan Pdt Marianne, pemimpin yang dipilih haruslah berintegritas, sebagai pemilih pun dituntut berintegritas agar pilihan yang diambil benar-benar berintegritas.

Keynote speaker yang sedianya Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, batal hadir diwakili Direktur Ormas Drs. Lutfi T, MA, M.Si.

Lutfi menyampaikan pemilu adalah pesta rakyat membawa sukacita bagi semua, pesta yang membawa kebahagiaan bagi semua untuk semua. Umat yang ikut pesta harus percaya kepada pemerintah, dan penyelenggara pemilu, ikut mengambil bagian dengan menggunakan hak memilih dan tidak golput
Pdt. Marthin Lukito Sinaga, D.Th menjelaskan bahwa dinamika demokrasi pemilu saat ini, masih bersifat dinamika biasa dalam demokrasi, tidak dinamika ideologis, karena dinamika ideologis sudah tuntas pada 1945.

Pdt Marthin lanjut mengemukakan bahwa, dewasa ini perkembangan dunia berdasar kajian ahli-ahli ilmu sosial, muncul kelas baru, yakni disebut prekariat. Prekariat kelas sosial yang muncul akibat disruptif teknologi, masyarakat korban disruptif, seperti pekerja jalan tol (dampak penggunaan uang elektronik), pengemudi kendaraan umum (dampak tren pengemudi online), dsb.

Pdt Marthin menegaskan bahwa, demokrasi elektoral penting, tetapi jauh lebih penting lagi demokrasi substansi.

Sementara itu, Prof Jimly menjelaskan saat ini dunia mengalami democracy regress (kemunduran demokrasi), bukannya democracy progress.

Menurut Prof Jimly, esensi demokrasi adalah adanya pergiliran kekuasaan, dan pengaturan kekuasaan, ironinya dewasa ini, atas nama demokrasi, seseorang menjadi pemimpin seumur hidup.

Dalam kegiatan yang diikuti 100 an orang, disi oleh Tim Kawal Pilpres 2019 yang disampaikan oleh Benny S. Lumy dan tim, mereka sosialisasi tata cara mencoblos, dan presentasi penggunaan aplikasi untuk
masyarakat turut memantau proses pemungutan dan penghitungan suara. (DPT)

Advertisement