Skip to content Skip to navigation

SIDANG MPL PGI 2019, PROF SRI ADININGSIH : BUTUH PERUBAHAN MINDSET UNTUK MENGHADAPI PERUBAHAN PETA EKONOMI DUNIA

Menuju Sidang Raya XVII Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) pada tahun 2019 di Sumba Nusa Tenggara Timur, MPH PGI menggelar Sidang Majelis Pekerja Lengkap PGI, diadakan di Hotel Royal Safari Garden Cisarua Bogor Jawa Barat, pada 29-31 Januari 2019. Penyelenggaraan Sidang MPL PGI 2019, dipercayakan kepada Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI), dikoordinir oleh Ketua Panitia Pdt dr Josafat Mesach MTh. Tema MPL PGI “Spiritualitas Keugaharian, membangun demokrasi yang adil bagi kesejahteraan semua”.

Sidang MPL PGI 2019 dihadiri oleh Ketua Umum PGI Pdt. Henriette Tabita Lebang, Sekretaris Umum PGI Pdt. Gomar Gultom, M.Th, jajaran pengurus PGI se-Indonesia, Gubernur Sulawesi Utara sekaligus Ketua Ketua Forum Komunikasi Pria Kaum Bapa Persekutuan Gereja-Gereja Di Indonesia (FK-PKB PGI) Olly Dondokambey, Ketua Umum Gereja Ortodox Indonesia Arkhimandrit Daniel Byantoro, Majelis Pertimbangan PGLII (Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia) Pdt. Dr. Nus Reimas, Ketua BPMS GMIM Pdt. Hein Arina, dan berbagai utusan lembaga mitra.

Sekum PGI Pdt. Gomar Gultom, saat pembukaan Sidang MPL PGI, sebagaimana dikutip dari pgi.or.id, mengemukakan bahwa Pikiran pokok sidang MPL kali ini, yakni “Membangun Demokrasi yang Adil bagi Kesejahteraan Semua”, bertolak keprihatinan gereja-gereja atas kehidupan demokrasi di Indonesia yang belum sepenuhnya dijiwai oleh nilai-nilai demokrasi.

“Dari pemilu ke pemilu kita menyaksikan kesan seolah Pemilu menjadi ajang perebutan kekuasaan semata, dan untuknya segala sesuatu seolah-olah sah untuk ditempuh” ujar Pdt. Gomar

Menyoroti isu-isu kebangsaan, pun dilakukan oleh Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Henriette Tabita Lebang. Pdt Henriette dalam sambutannya mengingatkan bahwa keugaharian menjadi bingkai bersama gereja-gereja dalam merespons pesoalan kebangsaan, yakni kemiskinan, ketidakadilan, lingkungan hidup, dan radikalisme.

“Spiritualitas keugaharian ini perlu kita kembangkan untuk mengatasi masalah kebangsaan kita, terutama kerakusan yang melanda umat manusia. Karena itu, setiap tahunnya sidang MPL PGI mencoba menggumuli spiritualitas keugaharian,” jelas dia. 

Hal lainnya disampaikan Henriette agar pimpinan agama dan gereja bertanggung jawab untuk mendampingi dan mencerahkan warga gereja agar menggunakan hak politiknya secara benar dan martabat demi Indonesia yang adil dan sejahtera bagi semua. 

Perhatian Sidang MPL PGI pada kehidupan demokrasi mendapat sambutan positif dari Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin yang hadir didampingi Dirjen Bimas Kristen Prof. Dr. Thomas Pentury saat acara pembukaan.

Menag Lukman Hakim menyampaikan bahwa demokrasi seharusnya dapat mengelola keragaman yang ada di Indonesia. Memang masih ada kelemahan dalam kehidupan demokrasi di Indonesia, namun demokrasi sejauh ini mampu mencari titik-titik bersama tanpa mengurangi derajat kemanusiaan itu sendiri. Lukman Hakim misalnya menyoroti keragaman interpretasi dalam kehidupan umat beragama saat ini, dan dalam koteks ini demokrasi dipandang sebagai upaya untuk membangun konsesus di antara kita yang beragam.

“Inti ajaran agama adalah kasih sayang, dia tidak bisa disebarkan dengan kebencian. Semangat inilah yang akan kita rawat sebaik-baiknya. Kita harus menghindari agama yang diperalat oleh pihak-pihak lain yang membuat kehidupan kita bersama menjadi terpecah dan menimbulkan konflik” kata Lukman Hakim.

“Persoalan demokrasi adalah persoalan klasik yang sering dihadapi manusia. Meski begitu sistem demokrasi lah yang mampu mengelola kemajemukan dan keberagaman di Indonesia dan dunia hingga saat ini. Tentu demokrasi ada kelemahan. Ada paradoks. Namun sampai kini sistem demokrasi masih menjadi yang terbaik. Dengan demokrasi inilah kita bisa mencari titik bersama dan kesepakatan tanpa menghilangkan harkat dan derajat bangsa itu sendiri,” jelas Lukman.

Menurut Lukman, agama mestinya memberikan teladan dan edukasi kepada umatnya bagaimana berdemokrasi yang baik dan damai. “Agama bukan malah menghancurkan atau merusak demokrasi dan hanya memikirkan kepentingan kelompoknya saja,” tegas Lukman. 

“Umat jangan diajarkan untuk membenci dan bermusuhan, apalagi sampai melakukan provokasi, ujaran kebencian dan menyebar berita hoax serta fitnah,” tambah Lukman. 

Sementara itu, Ketua Sinode GBI Pdt. Dr. Japarlin Marbun, yang dipercaya menyampaikan khotbah pembukaan, mengemukakan sukacita GBI diberi kepercayaan untuk melayani gereja-gereja di Indonesia pada sidang MPL PGI kali ini.

“Kami berharap melalui Sidang MPL PGI ini terjalin komunikasi dan kerjasama yang baik di kemudian hari dengan seluruh gereja yang ada di Indonesia,” ujar Japarlin.

Selain itu, Pdt. Japarlin juga  menerjemahkan semangat keugaharian dalam bentuk kerja keras gereja-gereja dalam misi bersama bagi dunia. Dalam konteks ini, gereja-gereja harus memahami perkembangan zaman yang telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat

“Gereja harus fokus pada panggilannya untuk memberdayakan manusia ciptaan Tuhan, sebagaimana dalam penciptaan. Gereja harus melayani manusia secara utuh” kata Pdt.  Japarlin.

Ketua panitia, Pdt dr Josafat Mesach MTh, berharap Sidang MPL PGI ini dapat merumuskan hal berguna untuk perjalanan gereja Tuhan di Indonesia. Dengan tema ini, kata Josafat, diharapkan sungguh-sungguh tercipta kesejahteraan bagi semua, khususnya kesejahteraan jiwa. 

“Karena jiwa yang sejahtera menimbulkan kerelaan untuk menerima setiap keadaan yang terjadi dalam kehidupan nyata manusia. Kesejahteraan yang membuat kita dapat berkawan meskipun berbeda pandangan. Kesejahteraan ini dapat terjadi ketika manusia menempel pada pokok anggur yang benar yaitu Yesus Kristus,” imbuhnya.

Sedangkan Ketum Sinode GBI, Pdt Dr Japarlin Marbun, mengatakan pada Sidang MPL PGI tahun ini GBI dihargai dan diberikan kepercayaan untuk menjadi tuan dan nyonya rumah.

“Kami berharap melalui Sidang MPL PGI ini terjalin komunikasi dan kerjasama yang baik di kemudian hari dengan seluruh gereja yang ada di Indonesia,” tutup Japarlin.

Sesuai hasil sidang raya PGI 2015 di Nias, sidang MPL 2019 mengangkat tema; “Tuhan Mengangkat Kita Dari Samudera Raya”. Ada pun SubTema yang diangkat kali ini; “Spiritual Keugaharian: Membangun Demokrasi yang Adil bagi Kesejahteraan Semua”. Menurut Sekum PGI, Pdt, Gomar Gultom, Sidang MPL PGI 2019 adalah Sidang MPL terakhir sebelum Sidang Raya PGI kembali tahun 2020 dengan agenda utama memilih pimpinan PGI yang baru periode 2020-2025. 

Sidang MPL PGI 2019, pun turut dihadiri oleh Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Prof. Dr. Sri Adiningsih, M.Sc, yang menyampaikan paparan “Spiritualitas Keugaharian: Membangun Demokrasi yang Adil bagi Kesejahteraan Semua”.

“Lesunya ekonomi dunia membuat Indonesia berada dalam posisi yang tidak mudah dalam menggerakan ekonomi demi kesejahteraan dan pemerataan. Catatan Bank Dunia (Januari 2019) dan International Monetary Fund (Januari 2019) paling tidak memperlihatkan tren lesunya ekonomi dunia” urai Prof Sri Adiningsih dalam diskusi Pikiran Pokok Sidang MPL PGI.

Bagi Prof Sri Adiningsih, kelesuan ekonomi tersebut menunjukan perubahan peta ekonomi dunia. Ini terlihat dari melemahnya ekonomi Cina serta bekembangnya kebijakan proteksionis di Amerika dan Eropa.

Lebih lanjut Prof Sri Adiningsih menjelaskan bahwa Indonesia berada di tengah kelesuan ekonomi dunai, karena itu, dibutuhkan perubahan mindset untuk menghadapi perubahan peta ekonomi dunia dan dalam rangka membangun ekonomi Indonesia yang stabil dengan berolak dari pinggiran. Pembangunan stabilitas ekonomi penting untuk menjaga keberlanjutan pembangunan.

Dalam catatan Prof Sri Adiningsih, ada banyak persoalan harus diatasi. Namun, Indonesia sesungguhnya memperlihatkan pergerakan ekonomi yang lebih tinggi di bandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia. Hal ini menunjukan adanya perbaikan fondasi ekonomi yang pada gilirannya berkontribusi terhadap peningkatan kualitas manusia, misalnya terlihat dalam perbaikan layanan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik. Indonesia juga dalam catatan Prof. Sri Adiningsih, mengalami perkembangan dalam ekonomi digital seiring perbaikan elektrisitas dan teknologi informasi. (DPT)

Advertisement