Skip to content Skip to navigation

SAUT SITUMORANG KPK, MENDIDIK ANAK-ANAK SEKOLAH MINGGU MENJADI KADER ANTI KORUPSI

Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional, pada 26 Juni - 2 Juli 2018 mengadakan Perkemahan Ceria Anak Dan Guru Sekolah Minggu (PERCASMI) PGI, berlokasi di Hotel Yasmin Cipanas Jawa Barat. Demikian disampaikan Humas PGI
Irma Riana Simanjuntak dalam rilis kepada Gerejani Dot Com beberapa saat lalu.

“Gereja harus menjadi model bagi perlindungan anak-anak, agar tidak terjadi kekerasan dalam segala bentuk kepada anak, baik oleh orangtua maupun guru”, demikian antara lain disampaikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Prof Dr. Yohana Susana Yambise, saat membuka PERCASMI PGI, Jumat (29/6), di Hotel Yasmin, Cipanas, Jabar.

Lebih lanjut Menteri mengatakan, Negara sudah mengeluarkan Undang-undang Perlindungan Anak dan berbagai regulasi yang menjamin hak-hak anak. Tinggal bagaimana kita mensosialisasikannya. “Saya berharap gereja-gereja anggota PGI berperan aktif dalam mensosialisasikan dan melaksanakan Undang-undang Perlindungan Anak secara bersama-sama”, demikian Ibu Menteri kepada 400-an anak dan pendamping Sekolah Minggu, yang datang dari berbagai pelosok Indonesia.

PERCASMI PGI 2018 diselenggarakan oleh PGI di bawah terang tema “Aku Anak Indonesia; Cinta Tuhan, Cinta Sesama”, dan dibuka oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI pada Jumat, 29 Juni 2018 di Cipanas. Kegiatan yang diikuti oleh 400 anak-anak utusan gereja-gereja anggota PGI ini diisi dengan rangkaian ungkapan syukur, bermain, belajar dan ragam bentuk pembelajaran lainnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum MPH PGI, Pdt. Gomar Gultom, saat membuka PERCASMI, mengapresiasi kehadiran Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Yohana Yambise. “Kehadiran Ibu menjadi suatu bukti kuat dan besarnya perhatian pemerintah terhadap pendampingan dan perlindungan anak”.

Seraya menyambut kehadiran seluruh peserta, Pdt Gomar menghimbau agar kesempatan selama tiga hari dimanfaatkan untuk mengembangkan 3B: Bersyukur, Bermain dan Berbincang. Menurutnya, 3B ini mendesak dikembangkan kini di tengah kecenderungan anak-anak yang makin tergantung pada gawai atau gadget dan makin kurang kesempatan bersyukur, bermain dan berbincang bersama. “Mari manfaatkan tiga hari ini untuk berlatih 3B, untuk nanti sekembalinya di rumah, mengajak Bapak, Ibu dan kakak-kakak untuk selama sedikitnya tiga jam per hari mematikan tv, komputer dan gadget. Ajak bapak dan ibu untuk 3B di rumah masing-masing”, demikian himbaunya.

Secara khusus Pdt Gomar juga menghimbau agar seluruh peserta selama berada dalam kegiatan dapat mengurangi penggunaan gadget demikian pula ketika kembali ke rumah.

Ketua panitia PERCASMI PGI 2018, Ibu Yeni Krismawati, menyampaikan harapannya agar tema PERCASMI kali ini dapat memperlengkapi adik-adik sekolah minggu dalam menghadapi berbagai tantangan saat ini. Beliau juga berharap kegiatan PERCASMI ini dapat memberi manfaat bagi anak-anak sebagai generasi muda gereja dan juga bagi guru-guru sekolah minggu sebagai pendamping anak.

Narasumber yang turut memberikan pembekalan kepada peserta PERCASMI, Komisioner KPK Saut Situmorang, mengemukakan bahwa, “Jujur, Peduli, Mandiri, Disiplin, Tanggungjawab, Kerja Keras, Sederhana, Berani dan Adil adalah sembilan nilai anti korupsi yang harus disebarkan oleh gereja, lewat Sekolah Minggu kepada anak-anak.”.

Saut hadir pada hari terakhir kegiatan PERCASMI 2018, lebih lanjut Saut menjelaskan dengan menanamkan 9 nilai tersebut sejak dini kepada anak-anak, gereja telah ikut berperan dalam pembangunan mental-spiritual bangsa Indonesia.

“Kesembilan nilai tersebut dapat juga dapat ditambahkan dengan nilai-nilai kebaikan lainnya yang diajarkan di Sekolah Minggu.”, lanjutnya. Selanjutnya Situmorang menyampaikan harapannya, “Sekarang kalian berumur rata-rata 10 tahun. Bayangkan nanti 20 tahun lagi kalian akan menjadi orang yang memiliki pemikiran luar biasa. Salah satu di antara kalian akan menjadi Ketua KPK".

Saut menambahkan, ada banyak kerja-kerja berat yang sedang dilakukan oleh KPK sekarang ini terkait korupsi. Tercatat hampir mendekati 500 orang menjadi tahanan dari kasus yang telah menggerogoti bangsa ini. Pelakunya justru orang-orang pintar seperti menteri, hakim dan jaksa.

“Oleh karena itu, saya tidak mau adik-adik yang berada di barisan ini, nantinya menjadi orang-orang yang tertangkap karena korupsi. Mulai dari sekarang dan sepanjang hidupmu ingat kesembilan nilai ini. Sembilan nilai itu mesti kamu jalani setiap hari dan pegang. Jika dijalani setiap hari, akan akan membuahkan yang indah dan nikmat,” tegasnya.

Menjawab pertanyaan seorang peserta, Tobias dari POUK Kerinci Riau, tentang peran anak untuk mendukung KPK, Saut Situmorang menyampaikan anak-anak dapat mulai dari hal-hal kecil, misalnya tidak menyontek, mengembalikan barang yang dipinjam. Selain itu anak-anak dapat juga berdoa dan berani mengingatkan teman, anggota keluarga untuk tidak berperilaku koruptif.

Dalam rangka ikut membantu membentuk anak yang berkarakter, PERCASMI 2018 ini dengan sengaja menghadirkan Pimpinan KPK. Di tengah-tengah ceramahnya, Saut Situmorang berkesempatan menghibur peserta dengan bermain saxophone, yang mendapat sambutan meriah.

Gerakan anti korupsi memang penting untuk diajarkan sejak dini sebab menjadi salah satu penyebab runtuhnya sebuah negara. Di Indonesia sendiri, kasus korupsi banyak ditemui dan menjadi persoalan yang merugikan negara. Setiap tahun Transparency International merilis indeks persepsi korupsi negara-negara di dunia. Dan untuk tahun 2017, Indonesia menduduki peringkat ke-96. Transparency International menyimpulkan belum ada banyak perkembangan dari negara-negara ini untuk mengakhiri korupsi.

Sementara itu, dari kasus-kasus yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), praktik korupsi dari tahun ke tahun menunjukkan tren peningkatan. Data dari penyidikan kasus korupsi dalam empat tahun terakhir pada 2014 ada 56 kasus korupsi yang disidik KPK. Kemudian naik pada 2015 menjadi 57 kasus, dan pada 2016 naik lagi menjadi 99 kasus.

Pejabat negara yang paling banyak menilep uang rakyat justru adalah kalangan wakil rakyat, baik DPR maupun DPRD. Demikian pula kepala daerah dari tingkat gubernur hingga walikota atau bupati, juga kalangan swasta. Modus korupsi yang paling sering dilakukan adalah penyuapan. (DPT)

Advertisement