Skip to content Skip to navigation

RILIS PENCAPAIAN KERJA BNN AKHIR TAHUN 2017 : BNN TELAH MEREHABILITASI 18.311 PENYALAHGUNA NARKOBA

Nama Tio Pakusadewo tentu saja sangat dikenal masyarakat Indonesia secara luas, selain kehebatannya dalam berakting didunia sinema, pemilik nama asli Irwan Susetio Pakusadewo, dalam perjalanan karirnya sebagai aktor film terkemuka, berhasil meraih berbagai penghargaan.

Tidaklah heran bila masyarakat sontak terkejut mengetahui artis terkemuka tersebut, sebagaimana seperti halnya sejumlah orang-orang terkenal lainnya, tersangkut kasus narkotika. Tio Pakusadewo yang ditangkap polisi saat mengkonsumsi narkotika jenis shabu dikediamannya, pada 19 Desember 2017 lalu, kini setelah resmi ditahan Polda Metro Jaya, Tio berdasarkan assesment pihak Badan Narkotika Nasional Kota Jakarta Selatan, besok Jumat 29 Desember 2017, sebagaimana disampaikan oleh Kasubdit II Ditresnarkoba Polda Metro Jaya AKBP Doni Alexander hari ini kepada pers, "Untuk Tio, kami akan hantarkan yang bersangkutan untuk menjalani rehabilitasi di RS Selapa Polri, sesuai assesment dari BNNK”.

Kasus Tio Pakusadewo merupakan salah satu pencapaian kerja BNN RI, dalam menangani masalah narkoba di Indonesia, selain itu masih banyak lagi pencapaian dan berbagai perkembangan kinerja lembaga non-kementerian yang khusus menangani masalah narkoba tersebut.

Berbagai informasi pencapaian dan perkembangan kinerja BNN RI, disampaikan oleh Kepala BNN RI Komjen Pol Budi Waseso, kemarin saat konferensi pers tentang laporan akhir tahun BNN RI. Kepala BNN RI bersama Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi, didampingi Sekretaris Utama BNN Brigjen Pol Sistersins Mamadoa, Deputi Pemberantasan BNN Inspektur Jenderal Polisi Arman Depari, Deputi Rehabilitasi Dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ. MARS, Drs. Arief Wicaksono Sudiotomo Deputi Hukum dan Kerjasama, dan Inspektur Utama BNN, Irjen Pol M. Rum Murkal di gedung BNN, Cawang Jakarta Timur, Rabu (27/12/2017).

Kepala BNN RI mengemukakan merespon situasi bangsa yang berada dalam status darurat Narkoba, para pemangku kepentingan dan kebijakan di negeri ini pun tak dapat berdiam diri melihat Narkoba menghancurkan bangsa dan negara.

“Pemerintah dan masyarakat akhirnya sadar bahwa kejahatan ini adalah bentuk perang modern yang tengah digencarkan oleh siapapun yang berniat menguasai Indonesia tanpa 'mengotori' tangannya sendiri. Untuk menghadapi ancaman ini, semua harus bersatu, khususnya aparat penegak hukum yang terang-terangan dibekali senjata untuk melindungi bangsa dan negara. Tidak boleh ada lagi ego sektoral demi kepentingan terlihat berjasa di mata rakyat karena aparat penegak hukum memiliki kewajiban melindungi rakyat” disampaikan perwira tinggi bintang tiga Polri yang akrab disapa Buwas.

BNN menerapkan strategi khusus dalam mengatasi permasalahan Narkoba, yakni keseimbangan penanganan antara supply reduction dan demand reduction. Supply reduction bertujuan memutus mata rantai pemasok narkoba, mulai dari produsen sampai pada jaringan pengedarnya, sedangkan demand reduction adalah memutus mata rantai para pengguna narkoba.

Lebih lanjut diurai Buwas, pada pendekatan supply reduction BNN, Polri, serta Bea dan Cukai telah bekerja sama melakukan penindakan terhadap segala bentuk kejahatan narkoba.

Data yang diungkapkan Buwas, pada periode Januari -  Desember 2017, BNN dengan jajaran terkait, berhasil mengungkap 46.537 kasus narkoba dan 27 kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang bersumber dari kejahatan narkoba. Dari kasus-kasus tersebut telah diamankan 58.365 orang tersangka kasus Narkoba, 34 tersangka TPPU, dan 79 orang tersangka lainnya yang terpaksa mendapatkan hadiah berupa timah panas dari petugas hingga tewas akibat melakukan perlawanan saat dilakukan penindakan. Dengan penyitaan barang bukti sebanyak : Shabu 4,71 ton, Ganja 151,22 ton, Ekstasi 2.940.748 Butir dan 627,84 kg.

Sementara itu dari sisi penanganan TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) kejahatan narkoba yang diterapkan BNN, berhasil disita barang bukti berupa aset dalam bentuk kendaraan bermotor, properti, tanah, perhiasan, uang tunai, dan uang dalam rekening yang berhasil disita BNN mencapai nilai Rp 105.017.000.000 (Seratus Lima Miliar Tujuh Belas Juta Rupiah).

BNN telah menerima barang rampasan negara yang berasal dari pengungkapan kasus Narkoba dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) hasil Kejahatan narkoba senilai Rp 27.282.130.000,- (Dua Puluh Tujuh Miliar Dua Ratus Delapan Puluh Dua Juta Seratus Tiga Puluh Ribu Rupiah) yang telah dimanfaatkan untuk kepentingan pemberantasan narkoba.

BNN dalam mengungkapkan berbagai kasus narkoba, pun menggunakan unit anjing pelacak khusus (K9). Untuk menghadapi tantangan ancaman kejahatan Narkoba dengan modus operandi yang kian beragam, BNN membangun Pusat Unit Deteksi K9 yang difungsikan sebagai pusat pelatihan dan pengembangan K9 dalam mengungkap kejahatan Narkoba.

Perkembangan narkotika jenis baru juga menjadi perhatian yang sangat serius bagi pemerintah. Pasalnya dari 739 zat narkotika jenis baru atau New Psychoactive Substances (NPS) yang dilaporkan oleh 106 negara dan teritorial sudah beredar di dunia (World Drug Report UNODC 2017), kerap menjadi modus operandi jaringan sindikat narkoba untuk menyelundupkan Narkoba dalam bentuk lain dengan efek yang bahkan lebih dahsyat dari Narkoba pada jenis umumnya. Dari peredaran NPS di dunia, telah didentifikasi sebanyak 68 zat NPS yang telah masuk dan beredar luas di Indonesia. Sebanyak 60 (enam puluh) zat diantaranya telah berhasil mendapatkan ketetapan hukum melalui Permenkes No. 41 tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika dengan ancaman hukuman yang diberlakukan sesuai dengan Undang-Undang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

BNN pada tahun ini tengah membangun Pusat Laboratorium Uji Narkoba di Lido, Bogor, yang diharapkan mampu menjadi rujukan dan pusat penelitian tentang Narkoba di Indonesia.

Dalam pendekatan demand reduction, langkah-langkah preventif ditempuh sebagai upaya untuk membentuk masyarakat yang mempunyai ketahanan dan kekebalan terhadap Narkoba. Untuk itu pada tahun 2017, BNN telah menyusun Modul Pendidikan Anti Narkoba untuk 5 (lima) sasaran, yaitu pelajar, mahasiswa, pekerja, keluarga, dan masyarakat. Modul Pendidikan Anti Narkoba ini merupakan program prioritas nasional yang sejalan dengan kebijakan nasional tentang revolusi mental. Modul tersebut telah diluncurkan di 4 wilayah, yaitu, Maluku Utara, Bali, Surabaya, dan Kalimantan Timur.

Guna menarik minat anak-anak, BNN bekerja sama dengan MD Entertainment menyosialisasikan bahaya penyalahgunaan Narkoba melalui program televisi animasi “Adit Sopo Jarwo”. Program dengan 50 juta penonton ini dinilai sangat strategis dalam meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan anak Indonesia terhadap bahaya penyalahgunaan Narkoba.

BNN juga telah mendistribusikan mobil sosialisasi Narkoba yang dilengkapi dengan media sosial center yang dikelola oleh BNN Kabupaten/Kota di 22 provinsi, dengan harapan mudah dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat di wilayah Indonesia.

Jumlah kegiatan pencegahan yang telah dilakukan oleh BNN, baik berupa advokasi, sosialisasi, dan kampanye STOP Narkoba pada tahun 2017 adalah sebanyak 10.939 kegiatan dengan melibatkan 2.525.131 orang dari berbagai kalangan, baik kelompok masyarakat, pekerja, maupun pelajar.

Pada tahun ini, BNN bekerja sama dengan pemerintah provinsi Aceh meluncurkan program unggulan, yaitu Alternative Development (AD) untuk mengganti tanaman narkotika dan mengubah profesi penanam ganja menjadi petani dalam produksi unggulan. Program ini diklaim telah berhasil di berbagai negara penghasil tanaman narkotika. Dalam jangka panjang, grand design AD diharapkan dapat mewujudkan Aceh yang bersih dari produksi ganja serta mampu mengubah kondisi permasalahan darurat Narkoba saat ini.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat lainnya yang telah dilakukan oleh BNN antara lain, pelatihan penggiat anti Narkoba sebanyak 146 kegiatan dengan peserta sebanyak 3.733 orang, 719 kegiatan penyuluhan yang melibatkan 219.956 orang, dan pengembangan kapasitas sebanyak 150 kegiatan dengan peserta sebanyak 3.616 orang. Sebagai upaya deteksi dini penyalahgunaan Narkoba, pada tahun ini BNN memfasilitasi kegiatan tes urine yang diikuti oleh 158.351 orang, dengan hasil sebanyak 172 orang terindikasi positif mengonsumsi Narkoba.

Rehabilitasi Narkoba merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan para pengguna dari belenggu Narkoba. Pada tahun 2017, BNN telah merehabilitasi 18.311 penyalahguna Narkoba, baik di balai rehabilitasi maupun di dalam lembaga pemasyarakatan, dan telah memberikan layanan pasca rehabilitasi kepada 7.829 mantan penyalahguna Narkoba.

Pada tahun ini tercatat sebanyak 1.178 mantan penyalahguna Narkoba telah mengikuti program di Rumah Dampingan. Di rumah ini, mantan penyalahguna Narkoba dibekali dengan keterampilan guna meningkatkan kualitas hidup dan membuka peluang baru bagi mereka agar bisa kembali produktif sehingga lebih mandiri dan siap kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.

BNN juga tengah melakukan pengembangan terhadap Balai Besar Rehabilitasi di Lido, Bogor, sebagai pusat pengkajian, pusat layanan, dan pusat pelatihan (center of excellent) dalam bidang rehabilitasi penyalahguna Narkoba. Sebagai langkah awal, BNN melalu Deputi Bidang Rehabilitasi telah membuat road map pengembangan, analisa kekuatan, kelemahan, peluang serta tantangan yang akan dihadapi Balai sebagai Pusat Rehabilitasi Narkotika secara nasional. Selanjutnya di tahun mendatang akan dilakukan seluruh program pengembangan dimaksud.

Dengan terbentuknya pusat layanan unggulan ini, BNN berharap mampu menjadi rujukan rehabilitasi Narkoba tidak hanya di Indonesia tetapi juga bagi mancanegara.

BNN telah menjalin 1 (satu) kerja sama luar negeri dengan Laos dan 33 kerja sama nasional yang terdiri dari pemerintah, swasta, lingkungan pendidikan, dan komunitas masyarakat yang telah mengukuhkan komitmennya dan melakukan aksi nyata dalam upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

Kerja sama yang sangat penting lainnya dilakukan juga dengan perusahaan penerbangan Citilink, mengingat maraknya temuan pilot maskapai penerbangan yang terindikasi sebagai penyalahguna Narkoba dan membahayakan keselamatan penerbangan, ASPERINDO yang merupakan kumpulan perusahaan jasa ekspedisi juga tak kalah pentingnya bagi pengawasan pengiriman barang dari luar dan dalam negeri sebagai modus operandi yang kerap digunakan jaringan sindikat narkoba untuk menyelundupkan narkoba, juga dengan PELINDO III (Persero) sebagai penyelenggara jasa pelabuhan yang juga merupakan pintu masuk narkoba ke Indonesia. Kerja sama ini diharapkan dapat menginisiasi instansi dan lembaga lainnya untuk bersama-sama beraksi dan mendukung upaya penanganan permasalahan narkoba.

BNN pada tahun 2017 ini juga, telah menjalin kerjasama dengan TNI,  sebanyak 4 (empat) Perwira Menengah TNI secara resmi menduduki jabatan dalam struktur organisasi BNN. Keterlibatan unsur TNI dalam penanganan permasalahan Narkoba merupakan bagian dari sinergitas dinamika organisasi.

Selain keterlibatan unsur TNI secara struktural dalam mendukung kinerjanya, BNN telah melakukan penambahan kekuatan internal juga dilakukan dengan penambahan 28 (dua puluh delapan) BNN Kabupaten/Kota guna memperluas jangkauan wilayah rawan peredaran gelap dan penyalahgunaan Narkoba, sehingga saat ini BNN memiliki 34 BNN Provinsi dan 173 BNN Kabupaten/Kota. (DPT)

Advertisement