Skip to content Skip to navigation

PGI, PERISTIWA PELAJAR DI BATAM TIDAK HORMAT BENDERA : MASALAH EKSPRESI IMAN, BERIRISAN DENGAN EKSPRESI NASIONALISME

Viral berita dua orang pelajar SMP di Batam, yang tidak melakukan hormat bendera merah putih, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, saat upacara disekolahnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan, mengatakan, kedua orang siswa ini menganut aliran kepercayaan tertentu. "Pada saat upacara mereka tidak menghormati bendera dan tidak menyanyikan lagu Indonesia Raya," ujar Hendri, sebagaimana diberitakan tempo.co, Senin (25 November 2019).

Berbagai tanggapan maupun komentar warganet, marak merespon peristiwa tersebut, hingga mencuat wacana mengeluarkan kedua pelajar tersebut dari sekolah mereka.

Sebenarnya, aliran kepercayaan, atau aliran agama apa yang melatarbelakangi mereka, sehingga tindakan mereka, ada pula yang mengkaitkan dengan perilaku radikalisme agama?

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, melalui keterangan media yang disampaikan Humas PGI, Irma Simanjuntak, menyebutkan bahwa mereka penganut kepercayaan Saksi-Saksi Yehowa (SSY).

Berikut keterangan selengkapnya, pandangan PGI terhadap peristiwa pelajar yang berdasar kepercayaanya, tidak melakukan hormat bendera merah putih, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Menyikapi adanya dugaan siswa yang tidak menghormat bendera di Batam, Kepulauan Riau, maka PGI menyatakan :

1. Menyesalkan terjadinya insiden dua siswa yang kehilangan hak belajar di sekolah karena sikapnya yang berbeda perihal hormat bendera. Kami melihat hal ini sebagai masalah ekspresi iman yang beririsan dengan masalah ekspresi nasionalisme, yang semestinya bisa diselesaikan dengan dialog menuju saling pengertian. Namun pada saat yang sama, kami juga mengajak saudara-saudara dari Saksi-Saksi Yehowa (SSY) untuk membuka diri dengan merefleksikan kembali ekspresi imannya dalam bingkai kehidupan publik, khususnya dalam hidup bersama sebagai bangsa Indonesia dengan ekspresi nasionalisme yang telah diatur dalam konstitusi dan berbagai regulasi yang berlaku.

2. Mengingatkan bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan. Education for all adalah ajakan Deklarasi Dakkar pada tahun 2000 yang sesuai dengan arahan UUD 1945 pasal 31.

3. Ajaran SSY memang berbeda dengan ajaran mendasar umumnya gereja-gereja di Indonesia. Namun demikian, tidak ada alasan warga gereja untuk meminta negara membatasi atau melarang keberadaan SSY. Bisa saja ajaran SSY dianggap tidak sesuai dengan ajaran gereja pada umumnya, namun hal tersebut juga harus dihormati. Hal ini mengingat kebebasan beragama, sesuai dengan ajaran agamanya, merupakan hak konstitusional setiap warga negara yang dijamin oleh UUD 1945 pasal 29. Upaya yang sebaiknya dilakukan oleh gereja-gereja adalah memperlengkapi umatnya hingga memiliki pengetahuan yang benar, tentang ajaran agamanya, agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, termasuk ajaran agama yang dapat menyesatkannya.

4. Meminta keseriusan negara untuk menjamin hak setiap warga negara, termasuk pengikut SSY, untuk memeluk agama dan keyakinannya, serta jaminan keamanan dalam melaksanakan ibadahnya. juga mendorong gereja-gereja untuk ikut peduli pada mereka yang berkeyakinan lain, terutama mereka yang didiskriminasi karena keyakinan imannya yang berbeda.

5. Jika memang terbukti ada unsur-unsur dari pengajaran SSY yang menolak atau bertentangan dengan Pancasila dan ada sikap pengikut SSY yang tidak mematuhi konstitusi dan regulasi yang berlaku, maka hal ini diserahkan sepenuhnya untuk ditindak sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Demikian rilis ini dibuat dengan harapan agar kemajemukan yang ada di tengah anak-anak bangsa dapat dikelola secara dialogis dan negosiatif demi membangun Indonesia sebagai rumah bersama bagi semua orang. Kiranya kita dapat menjadi sahabat bagi semua orang. (DPT)

Advertorial

Advertisement