Skip to content Skip to navigation

PEMBUKAAN SIDANG KE-5 SINODE GEREJA KRISTEN SETIA INDONESIA (GKSI), FRANS ANSANAY : 32 TAHUN GKSI, SEBAGAI GEREJA KAMI INGIN DAMAI

Gerejani Dot Com - Pembukaan Sidang Sinode ke-5 Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) diadakan dalam masa pandemi Covid-19, dilakukan dengan memperhatikan ketentuan protokol kesehatan, sehingga kehadiran peserta yang semestinya 200 an utusan GKSI se-Indonesia, secara fisik hanya dihadiri oleh sejumlah perwakilan, yakni sekitar 25 orang dari seluruh Indonesia. Peserta yang hadir pun telah diatur posisi duduk dan mejanya, serta menjalankan protokol kesehatan mandiri, yakni membawa atau menunjukkan hasil tes usap (Swap Testing), atau hasil tes Rapid. Peserta Pembukaan Sidang Sinode ke-5 GKSI yang hadir secara fisik, pun menerapkan protokol kesehatan, diwajibkan mengenakan masker, dan disejumlah titik lokasi pembukaan Sidang Sinode, disediakan tempat cuci tangan dengan sabun.

“Pelaksanaan pembukaan Sidang Sinode ini telah memenuhi syarat dan arahan dari pemerintah, dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan, peserta (hadir) juga mengenakan masker, saya juga pakai” jelas Willem Frans Ansanay, S.Th., SH., M.Si Majelis Tinggi Sinode GKSI kepada media Rabu (18 November 2020).

Sidang Sinode diadakan karena memang agenda Anggaran Dasar GKSI lima tahunan, ini harus diadakan selain untuk memilih pengurus baru, juga untuk mengevaluasi program-program yang telah dilaksanakan, dan berdasar evaluasi tersebut disusun program-program kerja ke depannya, tambah Frans Ansanay yang merupakan salah seorang pendiri Sinode GKSI.

Sidang Sinode ke-5 GKSI yang berlansung 18-19 November 2020, bertemakan “Akulah Alfa dan Omega (Kitab Wahyu 21 ayat 6), dengan Subtema : Menjadi Jemaat GKSI yang mandiri, peduli, berintegritas dalam kesederhanaan pelayanan untuk mewujudkan jemaat otonom yang dewaasa dalam daya dan dana.

Maksud dan arahan tema Sidang Sinode ke-5, menegaskan bahwa Gereja ini (GKSI) dibangun pada dasarnya oleh Tuhan Yesus, dan berakhir pun atas dasar Tuhan Yesus, artinya Gereja ini (GKSI) tidak lepas dari kepemimpinan Tuhan Yesus sebagai Kepala Gereja.

Frans Ansanay menambahkan, bahwa hari ini GKSI berusia 32 tahun, perjalanan GKSI mengalami dinamika yang kini membuat GKSI menjadi dua, bagi pandangan satu kelompok. Ada kepemimpinan yang tidak berganti selama 32 tahun, hal ini mengingatkan Frans Ansanay akan kondisi perpolitikan Indonesia, yang pernah juga ada kepemimpinan yang tidak berganti selama 32 tahun, sehingga diturunkan oleh rakyat.

“Hari ini GKSI 32 tahun, tapi sebelum 32 tahun sudah menjadi dua versi, menurut pemahaman pihak lain, kalo kita satu versi. GKSI 32 tahun kita satu versi tetap, mengapa demikian, karena pihak lain itu hanya mempertahankan status quo” terang Frans Ansanay yang juga akrab bersama media.

Lebih lanjut Frans mengingatkan bahwa kita harus berhati-hati terhadap kepemimpinan gereja yang mempertahankan status quo, karena akan menimbulkan efek domino yang lain.

Kami mengundang hadir pihak aras gereja nasional, dan juga pemerintah dalam hal ini Dirjen Bimas Kristen Protestan, tetapi mereka konsisten menjaga jarak terhadap gereja-gereja yang mengalami konflik internal, dengan tidak hadir, tetapi mereka mengetahui kegiatan ini.

“Kita setuju dan menjunjung tinggi sikap pemerintah dan PGI, adalah kalau gereja yang bertikai itu berdamai, berdamai itu merupakan solusi. Kalau ada pihak yang tidak mau membawa damai, tidak mau berdamai, silakan dinilai sendiri” jelas Frans Ansanay.

Sementara Ketua Sinode GKSI Pdt. Marjiyo, S.Th, pada kesempatan bincang-bincang dengan wartawan, mengemukakan, “Kami bersyukur punya senior-senior yang peduli, mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran, hingga kepemimpinan saya lima tahun, 2015 hingga saat ini mukjizat besar, ada beberapa hal yang luarbiasa, senior-senior tidak melepaskan begitu saja, biasanya dimanapun orang yang punya duit, berkorban duit, harus jadi pimpinan, tapi disini orang sudah berkorban ratusan juta, bahkan hampir 7 miliar, tapi beliau hanya sebagai pengarah jalan keluar, dan mendorong menggenerasikan kita, bahkan sampai hari ini, lima tahun ini beberapa yang luarbiasa”

Pdt. Marjiyo menyebutkan beberapa capaian dalam periode kepengurusannya, yang pertama bisa menyiapkan tenaga kerja milenial untuk berbagi didalam visi-misi GKSI, yang kedua sudah melahirkan dibawah Menkumham, yakni hak paten logo dan nama.

Frans Ansanay walaupun secara berkelakar, mengemukakan bahwa Pdt. Marjiyo akan kembali menjadi Calon Ketua Sinode GKSI untuk lima tahun ke depan. Sidang Sinode ke-5 GKSI akan berlangsung hingga hari ini Kamis 19 November 2020.

Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia, berlokasi dikawasan Jakarta Timur, berdiri sebagai hasil pekabaran Injil dan pelayanan mahasiswa Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (STT SETIA) yang dimotori diantaranya oleh Willem Frans Ansanay, GKSI didirikan pada Sabtu, 21 November 1998. Kebaktian perdana diadakan pada tanggal 21 Desember 1988, sekaligus ditetapkan sebagai hari berdirinya GKSI, yang tahun ini berusia 32 tahun. (DPT)

Advertorial

Advertisement