Skip to content Skip to navigation

PDT JACKY MANUPUTTY, KETUA MUBES PEMUKA AGAMA : MUBES DIADAKAN UNTUK MEMBANGUN VISI-MISI BERSAMA, DAN KESEDIAAN, KERELAAN DENGAN TULUS UNTUK BEKERJASAMA KEDEPANNYA

Pdt. Jackevyn Frits Manuputty, S.Th., S.Fil., MA seorang figur pendeta dari Gereja Protestan Maluku (GPM) yang mencuat namanya sebagai penerima anugerah internasional "Tanembaum Peacemaker in Action Award" pada tahun 2003 dari lembaga Tanembaum Center for Interreligious Understanding, suatu non-governmental organization (NGO) yang berkedudukan di New York Amerika Serikat. Pria yang akrab disapa Pendeta Jacky, menjadi salah satu penerima award serupa dari 10 orang terpilih secara internasional, menurut keterangan lembaga Tanembaum, dikatakan alasan mengapa memilih Pendeta Jacky adalah Pendeta Jacky telah berperan dalam kampanye dan advokasi damai secara nasional maupun internasional dalam mengupayakan perdamaian pasca konflik di Ambon beberapa tahun silam.

Pendeta Jacky yang sebelumnya merupakan Kepala Badan Litbang GPM, sekaligus pendiri dan Direktur Lembaga Antar Iman Maluku (LAIM), adalah alumnus Sekolah Tinggi Theologi Jakarta, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, keduanya untuk strata 1, dan Graduate Program on Pluralism & Interreligious Dialogue dari Hartford Seminary CT-USA untuk program strata 2 (MA).

Kiprah Pendeta Jacky kini kian meningkat dengan menjadi Asisten Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antariman dan Antarperadaban, institusi baru diera pemerintahan Presiden Joko Widodo, yang dikepalai oleh Prof. Dr. KH. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin atau akrab disebut Din Syamsuddin. Pendeta Jacky sebagai Asisten Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antariman dan Antarperadaban, dipercaya menjadi Ketua Panitia "Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa", perhelatan akbar para pimpinan lembaga keumatan dan tokoh-tokoh agama dengan tema 'Rukun dan Bersatu, Kita Maju' untuk membicarakan permasalahan bangsa dan negara dalam perspektif kerukunan dan kerjasama antaragama dan antarperadaban. Terlihat sejumlah pimpinan lembaga keumatan hadir dalam Mubes yang berlangsung Kamis siang kemarin (8 Februari 2018) hingga 10 Februari 2018, seperti Ketua Umum PGI Pdt. Dr. Henriette Lebang, Sekum PGI Pdt. Gomar Gultom, M.Th, Ketua Umum PGLII Pdt. Dr. Ronny Mandang, Ketua PGPI Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman, pimpinan Gereja Orthodox Indonesia Romo Daniel B. D Byantoro, dan sejumlah banyak lainnya tokoh pemuka agama, termasuk dari generasi muda, seperti KH. Cholil Nafis, Lc., MA., Ph.D dari MUI.

Saat ditemui beberapa wartawan media kristiani disela-sela kesibukannya memonitoring pelaksanaan Mubes Pemuka Agama di Puri Agung Hotel Grand Sahid Jaya, siang kemarin (Kamis 8 Februari 2018), Pendeta Jacky menjelaskan proses awal digagasnya Mubes Pemuka Agama tersebut.

"Ini merupakan implementasi dari salah satu mandat Presiden kepada Utusan Khusus Presiden, yakni Pak Prof Din Syamsuddin, untuk membangun dan menggairahkan dialog dan kerjasama antar umat beragama di Indonesia. Salah satu kegiatan besarnya adalah musyawarah besar yang dilakukan ini. Itu setelah kami, bersama-sama Utusan Khusus Presiden mengunjungi dari provinsi ke provinsi, lalu kemudian direkomendasikan juga dari berbagai pemuka agama, kemudian kita adakan musyawarah besar yang dihadiri oleh 450 pemuka agama dari berbagai latarbelakang 6 lembaga agama keumatan besar Hindu, Buddha, Protestan, Katholik, Khonghucu, dan Muslim, juga dari berbagai segmen kelembagaan dari MUI, Ormas-ormas, Universitas, juga dari berbagai spektrum, dari yang dianggap moderat sampai yang garis keras diajak untuk sama-sama. Tujuannya hanya satu bahwa kita harus bertemu, harus bersilaturahim, membangun dialog melalui perjumpaan langsung yang akrab, apapun perbedaannya diantara kita. Dialog yang dialogis, dialog yang juga berorientasi atau diarahkan untuk membangun kerjasama. Jadi tidak sekedar berbincang-bincang, tetapi juga membangun visi-misi bersama, dan kesediaan, kerelaan dengan tulus untuk bekerjasama kedepannya".

Agenda mubes pemuka agama disebutkan oleh Pendeta Jacky, yakni membahas 7 isu besar. "Kita bicarakan 7 isu besar, yang juga menjadi isu kebangsaan, sehingga para pemuka agama bisa memiliki perspektif bersama, bukan yang sama, perpektif bersama yang kemudian bisa dikembangkan sebagai, atau dikembangkan untuk memperkuat pilar kerukunan di bangsa ini". Selain itu, Pendeta Jacky juga tidak menafikan keberadaan tahun-tahun politik sebagai faktor yang turut dibahas dalam mubes.

"Tahun politis kan setiap menjadi tahun politis, tapi ini juga menjadi isu yang dibicarakan bagaimana pengaruh faktor-faktor non-agama terhadap agama, dan juga mengganggu kerukunan, termasuk dalam kaitan dengan politik ini, dimana friksi-friksi dengan gampang orang menggunakan agama juga akan dibicarakan".

Hasil-hasil Mubes Pemuka Agama nantinya selain akan dilaporkan langsung kepada Presiden sebagai masukan, juga akan disosialisasikan ke daerah-daerah melalui sarasehan-sarasehan, demikian diungkapkan Pendeta Jacky. (DPT)

Advertisement