Skip to content Skip to navigation

PARHEHEON SEKOLAH MINGGU, HKBP RESSORT KAYU TINGGI JAKARTA TIMUR GELAR SEMINAR KIDS & NATORAS ZAMAN NOW

Pengurus Sekolah Minggu HKBP Ressort Kayu Tinggi Cakung Jakarta Timur, Sabtu dan Minggu 10-11 Maret 2018 kemarin, menggelar rangkaian seminar dalam rangka Parheheon Sekolah Minggu. Seminar yang mengangkat tema besar tentang permasalahan pemanfaatan gadget/ponsel, diadakan di Gedung Gereja dan Aula Serbaguna HKBP Ressort Kayu Tinggi. Seminar juga dilandasi tahun pelayanan HKBP, yakni Tahun Pelayanan Kesehatan dan Lingkungan Hidup.

Pembicara untuk kedua seminar tersebut ialah Frieda A. Sirait-Tonglo, S.Psi., DCM., M.Ed, seorang lulusan Sarjana dari Fakultas Psikologi UI, Diploma Children Ministry dari Western Australia Bible College, dan alumni S2 dari Murdoch University Perth Australia.

Frieda pada sesi seminar bertemakan "Kids Zaman Now" untuk anak-anak sekolah minggu kelas kecil dan kelas besar, mengemukakan realitas penggunaan gawai (gadget) pada anak-anak. Tinjauan dari sejumlah sumber berbasis kesehatan, menandaskan penggunaan/pemanfaatan gawai pada anak-anak, terlebih bila sejak anak-anak usia dini, dapat berakibat fatal terhadap anak-anak itu sendiri. Sejumlah penyakit yang diakibatkan penggunaan gawai dalam rentang waktu yang cukup lama dan intens, anak-anak dapat terkena gangguan penglihatan (astenopia), penurunan daya ingat, gangguan motorik halus dan kasar, obesitas, temper tantrum, gangguan berbahasa/berkomunikasi, dan lain sebagainya. 

Frieda mencontohkan adanya suatu sekolah di Pensylvania Amerika Serikat, yakni Waldorf School yang tidak memanfaatkan teknologi komputer ataupun internet dalam proses belajar-mengajar mereka. Sekalipun demikian, sejumlah petinggi perusahaan raksasa bidang teknologi informasi ataupun komputer, sebut saja Google, Yahoo, e-Bay, dan lainnya, mereka menyekolahkan anak-anaknya disekolah Waldorf tersebut. 

Allan Eagle (50 tahun) Direktur Eksekutif Komunikasi Google, merupakan salah satu petinggi perusahaan raksasa berbasis teknologi informasi, yang juga menyekolahkan putrinya di Sekolah Waldorf tersebut. Allan mengemukakan bahwa "Saya secara fundamental menolak gagasan bahwa pendidikan pada sekolah dasar membutuhkan alat bantu teknologi. Ide bahwa iPad dapat mengajarkan anak-anak saya membaca dan melakukan aritmatika itu konyol", bahkan lebih jauh Allan mengungkapkan bahwa putrinya bahkan tidak tahu bagaimana cara menggunakan Google dan itu tidak masalah bagi dirinya. 

Diharapkan melalui seminar tersebut, anak-anak sekolah minggu dapat mengerti akan adanya bahaya penyakit ataupun sejumlah gangguan yang dapat merugikan mereka, sebagai akibat penggunaan gawai yang tidak terkontrol waktu dan pemanfaatannya.

Seminar serupa pun dilakukan kepada para orangtua anak-anak sekolah minggu, yakni kemarin sore 11 Maret 2018 bertempat di Aula Serbaguna HKBP Ressort Kayu Tinggi. Bila pada seminar kepada anak-anak sekolah minggu, lebih ditekankan akan adanya bahaya penggunaan gawai, maka kepada orangtua , sekalipun juga masih membicarakan bahaya penggunaan gawai, juga diadakan survey sesaat untuk mengetahui sejauh mana tingkat kebergantungan orangtua terhadap gawai.

Seminar bertajuk Natoras Zaman Now yang masih dibawakan oleh Frieda, juga mengungkapkan sejumlah alasan orangtua memberikan gawai kepada anak-anaknya. Ada yang mengatakan bahwa sebagai orangtua tidak ingin diganggu untuk dapat mengerjakan hal-hl tertentu, dan untuk itu orangtua memberikan ponsel untuk anak-anaknya, ada juga yang memberikan gawai agar anak-anak untuk keperluan belajar. 

"Kita bisa mengalihkan perhatian anak-anak dari fokus kepada gadget/ponsel, misal dengan mengajak mereka bermain permainan tradisional, mengajak mereka melakukan aktivitas kreativitas, atau aktivitas lainnya" ujar Frieda saat menanggapi pertanyaan orangtua yang menanyakan bagaimana cara agar anak-anak tidak terkena dampak negatif bermain ponsel. "Bapak-Ibu juga harus membatasi lama waktunya anak-anak bermain/menggunakan gawai, dan sebaiknya untuk anak-anak yang masih berusia 5 tahun kebawah, kita jangan membiarkan mereka menggunakan gawai" jelas Frieda lebih lanjut.

Pendeta Haposan Sianturi selaku Pendeta jemaat HKBP Ressor Kayu Tinggi yang turut hadir dalam seluruh rangkaian seminar, saat penutupan seminar kemarin Minggu 11 Maret 2018, mengungkapkan kekecewaannya atas fakta dan realitas kian banyaknya jemaat yang lebih senang membawa Alkitab versi digital dalam gawai, dibanding membawa Alkitab dalam bentuk cetakan buku. 

"Saya ingin sebagai tindaklanjut seminar kita ini, agar digereja kita selama ibadah, dilarang bermain gadgethandphone, tidak hanya anak-anak, tetapi orangtua" demikian himbauan Pendeta Haposan. (DPT)

Advertisement