Skip to content Skip to navigation

MUSYAWARAH BESAR PEMUKA AGAMA SE-INDONESIA

Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban hari ini menggelar "Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa". Perhelatan yang mengundang ratusan pimpinan lembaga keumatan dan tokoh pemuka agama dari 6 agama : Islam, Kristen Protestan, Kristen Katholik, Hindu, Budha, dan Khonghucu.

Terlihat sejumlah tokoh lembaga keumatan, seperti Pdt Dr. Henriette Lebang Ketum PGI, Pdt. Gomar Gultom Sekum PGI, KH. Dr. Kholil Nafis dari MUI, Ketua PGIW DKI Jakarta Pdt Manuel Raintung, Pdt Ronny Mandang Ketum PGLII, perwakilan PGPI, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, dan tokoh lainnya.

Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa diadakan di Puri Agung Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, dimulai hari ini 8 Februari 2018 hingga 10 Februari 2018. Kepanitiaan Musyawarah yang diketuai Pdt. Jacky Manuputty, MA, akan membahas 7 Pokok Pembahasan, yakni : Pandangan dan Sikap Umat Beragama tentang NKRI berdasarkan Pancasila, Pandangan dan Sikap Umat Beragama tentang Bhinneka Tunggal Ika, Pandangan dan Sikap Umat Beragama tentang Pemerintahan yang sah hasil Pemilu Demokratis berdasarkan Konstitusi, Prinsip-prinsip Kerukunan antar Umat Beragama, Etika Kerukunan Intra Agama, Penyiaran Agama dan Pendirian Rumah Ibadat, dan Rekomendasi tentang Faktor-faktor Non Agama yang Mengganggu Kerukunan Antar Umat Beragama. Musyawarah yang resmi dibuka jam 2 siang tadi oleh Kepala UKP-DKAAP Prof. Dr. Din Syamsuddin.

Prof Din Syamsuddin dalam sambutan pembukaannya mengatakan, "Forum ini dimaksudkan sebagai ajang silaturahmi dan dialog dari hati ke hati para pemuka
agama-agama untuk membahas masalah-masalah yang ada untuk mewujudkan kerukunan bangsa".

Lebih lanjut Prof Din menjelaskan, sebenarnya, kerukunan bangsa relatif baik, ditandai antara Iain oleh terjaganya stabilitas nasional yang kondusif dan hubungan antar umat beragama yang positif dan dinamis. Memang kita tidak boleh menutup mata akan adanya ketegangan dan potensi konflik. Konflik
antar umat beragama biasanya tidak disebabkan oleh faktor agama tapi Oleh faktor-faktor non-agama, seperti kesenjangan sosial, ekonomi, politik. Agama kemudlan dijadikan sebagai faktor pembenaran terhadap faktor-faktor non-agama tersebut".

Prof Din menjelaskan lebih lanjut maksud diadakannya musyawarah, untuk mencegah potensi konflik itu perlu dikedepankan dialog. Namun, dialog perlu bersifat dialogis. yaitu dialog yang bertumpu atas dasar ketulusan, keterbukaan, keterusterangan untuk
penyelesaian masalah. "Atas dasar inilah Musvawarah Besar Pemuka Agama Untuk Kerukunan Bangsa ini kita selenggarakan bersama, Dari Umat, Oleh Umat, dan Untuk Bangsa. Kita harus meyakini kekuatan dialog, dan kita harus meyakini bahwa jika kita rukun dan bersaru, kita akan maju".

Saat berita ini dipublikasikan, agenda musyawarah sedang berlangsung sidang internal per agama. (DPT)

Advertisement