Skip to content Skip to navigation

MENELESIK SEJARAH TANJUNG DUREN, KEMANGGISAN, DAN KRAMATJATI DI PASAR SENI ANCOL

Kampung di Jakarta tentulah memiliki sisi cerita yang menarik untuk ditelisik. Setelah sebelumnya mengulas tentang Condet, Marunda dan kampung lainnya, Kampung Betawi Ancol kembali menggelar talkshow asal-usul kampung di Jakarta. Ada tiga kampung akan diulas detail, yaitu Tanjung Duren, Kemanggisan, dan Kramat Jati.

Sejarah Tanjung Duren dan Kemanggisan akan dibahas tuntas pada hari Sabtu, 4 Agustus 2018 dilanjutkan dengan Sejarah Landhuis Perninggalan Belanda dan Kisah Seputar Kramatjati pada hari Minggu, 5 Agustus 2018. Acara berlangsung pukul 13.30 - 15.00 WIB di gedung North Art Space (NAS), Pasar Seni Ancol yang juga menjadi tempat pameran Wall Of Frame Betawi. Demikian dijelaskan Asep Setiawan (Humas Pameran Wall Of Frame Betawi) dalam rilisnya kepada Gerejani Dot Com.

Cerita seputar Tanjung Duren dan Kemanggisan menghadirkan pembicara, Rachmad Sadeli (Pendiri Pustaka Betawi dan pengurus Lembaga Kebudayaan Betawi). Dalam pemaparannya pria kelahiran Tanjung Duren dan orang tua asal Kemanggisan, Jakarta Barat ini, akan menceritakan beragam informasi mengenai Tanjung Duren dan Kemanggisan, mulai dari asal-usul namanya, kondisi alamnya, seni maen pukulan Betawinya, dan kejadian unik pada masa lampau yang bersumber dari koran Belanda.

Sebagai informasi, nama Tanjung Duren merujuk pada dataran tinggi yang lebih rendah dari bukit dan buah durian (Durio zibethinus). Faktanya di Tanjung Duren memang banyak tumbuh pohon durian. Menariknya, pada peta tahun 1897 tertera nama Tandjoeng, lalu pada peta tahun 1947 tertulis Tadjoengtepekong. Nama tanjung Duren baru ada dalam Undang-undang Tentang Administratif Jakarta No. 10 tahun 1964.

Dari sisi nama Tandjoengtepekong, berasal dari dua nama Tanjung dan Tao Pe Kong. Tanjung berkaitan dengan kontur tanah yang tinggi di pinggir sungai, danau atau laut. Tao Pe Kong dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya gambar (patung) dewa yang dipuja dalam kelenteng. Jadi Tandjoentepekong berkaitan dengan sebuah tempat yang dijadikan tempat memuja dewa. Di Tanjung Duren dan sekitaran Kemanggisan ini dahulu banyak makam orang Cina, ini dapat dilihat dari peta Belanda 1897 dan 1947. Makanya, banyak tradisi upacara di tempat ini, salah satunya upacara Ceng Beng yang dilakukan dalam rangka membersihkan makam.

Berikutnya, wilayah Kemanggisan yang dahulunya banyak terhampar sawah dan pepohonan. Nama Kemanggisan mengacu pada kata manggis. Manggis (Garcinia mangostana L) adalah buah dengan warna kulit merah keunguan ketika matang. Nama Kemanggisan sudah muncul dalam peta tahun 1897.

Di Kemanggisan ini dahulu juga dikenal dengan jago maen pukulannya. Salah satunya yang sohor Ki Onthong yang kini dijadikan nama jalan di Kemanggisan, Kecamatan Palemerah. Dalam buku Maen Pukulan Khas betawi karya GJ Nawi, dijabarkan tentang kiprah jago dari Kemanggisan dengan julukan Jawara Kampung Sawah.

Pembahasan mengenai Landhuis Peninggalan Belanda dan Kisah Seputar KramatjatI menghadirkan Syamsudin Bahar Nawawi (Pegiat Budaya Betawi & Ketua Sanggar Betawi Rukun) dan GJ Nawi (Penulis Buku Maen Pukulan : Pencak Silat Khas Betawi).

Dalam pemaparannya, Syamsudin akan mengulas secara umum sejarah Kramat jati, kehidupan sosial kemasyarakatan, dan budayanya. Sedangkan GJ Nawi akan mengulas tentang Landhuis, bangunan peninggalan Belanda di Kramatjati, dan sekitarnya.

Kramatjati adalah nama sebuah kampung Betawi yang tingkat toleransi sosialnya cukup tinggi di wilayah timur Jakarta. Nama Kramatjati merupakan perpaduan antara nama dua kampung yaitu Kampung Kramat dan Kampung Jati. Keberadaannya sebagai jalur Trans Java Jakarta-Bogor mempunyai peranan penting dalam perkembangan Ibu Kota Jakarta.

Dalam sejarahnya, sebagai salah satu lahan perkebunan di wilayah selatan Meester Cornelis, Kramatjati meninggalkan jejak cerita sejarah yang cukup dalam. Sedikitnya terdapat lima situs peninggalan Belanda yang terekam dalam memori kolektif masyarakat dimana beberapa dari keberadaannya menjadi titik awal dari lahir dan berkembangnya sebuah perkampungan Betawi. Demikian pula cerita perjuangan masyarakatnya dalam menghadapi penjajahan, menjadi khasanah sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Dalam bidang seni budaya, Kramatjati menjadi kampung tempat kemunculan tokoh-tokoh Seniman Topeng yang menjadi Icon seni pertunjukan Betawi dan dikenal luas secara nasional. Di dunia keagamaan, Kramatjati menjadi "rendezvous" para Datuk dan Habib yang peranannya sangat besar dalam penyebaran dan perkembangan Islam di Tanah Betawi. Kramatjati adalah salah satu simpul dari untaian temali kantong-kantong pemukiman Betawi di Jakarta yang masih bertahan hingga hari ini.

Sebagai informasi, Wall Of Frame betawi merupakan bagian dari kegiatan Kampung Betawi Ancol yang dilaunching oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, Rabu 13 Juni 2018 lalu. Pameran Wall Of Frame Betawi dimotori oleh Roni Adi dari Sikumbang Tenabang dengan ketua tim penulis oleh Candrian Attahiyyat (Tim Ahli Cagar Budaya Pemprov DKI Jakarta). Tim penulis lainnya yang telibat didalamnya antara lain Yahya Andi Saputra (Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Jakarta), Asep Setiawan, dan Rachmad Sadeli. Sedangkan pameran dikerjakan oleh oleh Abi Koeshardadi dan foto-foto yang terpanjang dalam pameran tersebut dipercayakan kepada Yusar Mikail.
Tidak hanya itu, di tempat ini juga ada spot foto yang instagramable dengan konsep rumah Betawi yang unik dan dilengkapi dengan busana khas Betawi, cocok sebagai dokumentasi bergaya khas Jakarta bersama keluarga dan sahabat tercinta. (DPT)

Advertisement