Skip to content Skip to navigation

MENAKER HANIF DHAKIRI KULIAH UMUM STT REM : MASA DEPAN SEKOLAH BERBASIS AGAMA MASIH RELEVAN, PEMERINTAH MENYIAPKAN SKILL DEVELOPMENT FUND DAN UNEMPLOYMENT BENEFIT

Presiden Joko Widodo saat rapat terbatas penataan Tenaga Kerja Asing (TKA) di Kantor Kepresidenan pada Selasa 6 Maret 2018, mengemukakan perizinan untuk tenaga kerja asing dipermudah. Menanggapi ini, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif Dhakiri berjanji akan segera menata secara keseluruhan perizinan untuk tenaga kerja asing, sehingga bisa lebih cepat, bisa lebih responsif. Misalnya, terhadap perkembangan zaman sekarang ini termasuk dengan munculnya jenis-jenis pekerjaan baru dan lain sebagainya. "Pemerintah tetap memiliki skema pengendalian yang baik. Jadi tidak perlu dikhawatirkan," kata Hanif sebagaimana diberitakan Merdeka.com, Rabu 7 Maret 2018.

Menaker Hanif Dhakiri menyampaikan hal senada yang dibahas dalam rapat terbatas di Kantor Kepresidenan pada Selasa 6 Maret 2018 lalu, yakni hal realitas ketenagakerjaan Indonesia dan tantangan dalam perkembangan dunia, khususnya dengan perkembangan teknologi informasi dan komputer, namun kali ini tidak dalam forum pemerintahan ataupun forum pengambilan keputusan politik, tetapi Hanif Dhakiri membicarakannya dalam forum Kuliah Umum di Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel (STT REM).

STT REM yang berada di Jl. Pelepah Kuning III Blok WE 2 No. 4 G-K Kelapa Gading Jakarta Utara, pada 9 Maret 2018 mengadakan serial bulanan Kuliah Umum, setelah pada bulan Januari mengundang Prof. Dr.Rheinald Kasali membahas Fenomena Disrupsi, lalu pada Feburari menghadirkan KASAL Laksamana TNI Ade Supandi, SE., MAP membicarakan Leadership Millenial. Kini dibulan Maret 2018, Kuliah Umum diisi oleh Menaker M. Hanif Dhakiri yang menjelaskan tentang "Dunia Kerja Zaman Now". 

Kuliah umum yang diadakan diaula Kampus STT REM lt. 4, dihadiri ratusan tamu dan undangan, termasuk mahasiswa dan civitas akademi STT REM. Nampak hadir sejumlah tokoh, seperti Pdt. Dr. Abraham Conrad Supit Gembala Sidang Gereja GBI REM, Ketua STT REM Dr. Ariasa H Supit, M.Si, Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Dan Produktivitas Kemenaker, Ketua Umum Asosiasi Pendeta Indonesia Pdt Brigjend TNI Purn Drs Harsanto Adi, MTh, Tokoh Kristiani Laksamana Pertama TNI (Purn) Bonar Simangunsong, Tokoh Kristiani Ir. Alex M. Paath, Ketua Umum Bakornas GMDM Jefri T. Tambayong S. Th. MA, dan lainnya.

Kuliah umum masih tetap dimoderatori oleh Johan Tumanduk, SH, MM, MMin, MPdK (Direktur Eksekutif Conrad Supit Supit Center).

Menaker Hanif mengemukakan bahwa “Industri menjadi sangat penting merespon perubahan dengan cepat, bila tidak, industri akan colapse, tidak akan survive. Kalaupun survive, ada implikasi besar yang disebut man power shock, dia survive tapi setelah kemudian ada PHK secara massal, kemudian menimbulkan instabilitas secara politik. Industri dituntut membuat semacam strategi transformasi, seiring perubahan teknologi informasi yang begitu cepat”.

Menaker Hanif mengungkapkan ada 3 kelemahan tenaga kerja Indonesia, yakni : bahasa, komputer, leadership. Menurut Hanif, masa depan sekolah-sekolah berbasis agama masih relevan.

Indonesia mempunyai angkatan kerja 128 juta tahun ini, dengan tingkat pertumbuhan angkatan kerja per tahun sekitar 2 juta orang, dengan sekitar 750 ribuan adalah lulusan perguruan tinggi yang semuanya mau masuk pasar kerja, atau setidaknya mau berwirausaha. Mereka sulit masuk dunia kerja, penuh tantangan, salah satunya adalah persoalan mismatch, dengan tingkat mismatchnya sekitar 63%, berarti bila ada 10 orang, maka yang match 3 atau 4 orang, demikian realitas dunia ketenagakerjaan Indonesia sekarang yang disampaikan Menaker Hanif.

"Bila disekolah berbasis agama islam, gap produksi dan kebutuhan pasar tenaga kerja sekitar 10 %, misal produksinya 350 ribu, kebutuhan pasar kerja 35 ribu, tapi tidak tahu dikomunitas kristen atau katolik, berapa gap antara produksi dan kebutuhan pasar kerjanya" ungkap Hanif.

Menaker Hanif mengutarakan bahwa permasalahan tenaga kerja kita selain persoalan kualitas, adalah juga kuantitas (jumlah). Saat ini Indonesia (bila memakai data 2016) masuk menjadi ekonomi 16 besar dunia, dengan kekuatan 57 juta pekerja skill. Tahun 2030 Indonesia akan keluar sebagai negara dengan ekonomi ketujuh dunia, dengan syarat Indonesia harus mempunyai pekerja skill sebanyak 113 juta orang.

"Permasalahan tenaga kerja kita juga adalah soal persebaran. Tenaga kerja kita yang berkualitas menumpuk disekitaran wilayah Jabodetabek. Masalah keempat tenaga kerja adalah responsibilitas terhadap perubahan" ujar Hanif.

Responsibilitas terhadap perubahan meliputi penguatan aset dan mutu profesional training dan trading, yang kedua kesiapan skema kebijakan sosial, disebut skill developmen fund, skema pendanaan pelatihan, yang kedua disebut unemployment benefit tunjangan keluarga korban PHK. (DPT)

 

Advertisement