Skip to content Skip to navigation

Kuliah Umum ASEAN Prof Yanyan Mochamad Yani, Ph.D di FISIPOL UKI : Tidak ada ASEAN Kalau Tidak Ada Indonesia

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia (FISIPOL UKI) dalam rangka memberikan wawasan kekinian dan pengembangan pengetahuan bagi para mahasiswanya, khususnya terkait dengan perkembangan isu ASEAN, pagi hingga siang tadi menggelar kuliah umum dengan menghadirkan pakar ASEAN yang juga Guru Besar FISIP Universitas Padjajaran, yakni Prof. Drs. Yanyan Mochamad Yani, MAIR., Ph.D. Kuliah umum yang disampaikan Prof Yanyan bertajuk “Indonesia dan ASEAN Pasca 2015”,dimoderatori oleh Dr (Cand)  Verdinand Robertua (Sekretaris CESFAS UKI), turut dihadiri juga oleh sejumlah staf pengajar FISIPOL UKI, seperti Andaru Satnyoto, dan Wakil Rektor Dr. Wilson Rajagukguk, M.Si., MA.

Dekan FISIPOL UKI Angel Damayanti, S.IP., M.Sc., MA pada sambutan pembukaan kuliah umum, menjelaskan bahwa UKI sepanjang 2016 hingga kini, telah melakukan sejumlah kegiatan terkait dengan ASEAN, seperti Perayaan 50 tahun ASEAN, Parade Festival Film 50 Tahun ASEAN, bahkan mahasiswa UKI terpilih menjadi Finalis Duta Muda ASEAN, termasuk juga program magang mahasiswa UKI ditempatkan disejumlah KBRI dinegara ASEAN. “FISIPOL UKI patut berkontribusi dalam memperkuat posisi Indonesia didalam ASEAN” ujar Angel.

Prof Yanyan yang mempunyai latarbelakang selain akademisi, alumni Lemhannas, aktif dalam berbagai forum kajian strategik seperti BNPT, Lemhannas, Profesor tamu di Osaka, Dosen Tamu di Sesko lingkungan TNI, juga penulis aktif sejumlah buku khususnya membahas ASEAN.

Prof Yanyan menyampaikan paparannya tentang keberadaan ASEAN dalam konteks berbagai isu strategik. Gaya paparan yang lugas dan humoris, membuat ratusan mahasiswa FISIPOL UKI menyimak dengan seksama presentasi yang berjalan lebih kurang 1 jam. Tidak jarang gelak tawa pecah diantara peserta kuliah umum yang digelar di Ruang Seminar FISIPOL UKI lantai 3.

Prof Yanyan pada awal paparan menjelaskan secara lugas dan sederhana tentang tujuh periode politik luarnegeri Indonesia. “Jadi untuk mengetahui hubungan dinegara ASEAN, kenalilah politik luarnegerinya. Politik luarnegeri adalah kebijakan atau tindakan yang berhubungan dengan situasi atau aktor diluar batas wilayah negara (Indonesia)”.

Selanjutnya Prof Yanyan menyebutkan bahwa di Indonesia ada 21 aktor domestik yang berpengaruh terhadap politik luarnegeri Indonesia, “Ada Presiden (sebagai kepala negara), faksi militer (TNI-Polri), Kemenlu, birokrat politik (legislatif, eksekutif), ada aktor lain (kelompok islam moderat, islam radikal), partai politik, ada lagi perguruan tinggi, LSM, pengajian, dsb”.

Melanjutkan perkuliahannya, Prof Yanyan menguraikan tentang poros maritim era Joko Widodo. Poros maritim Indonesia itu terdiri dari budaya maritim, pembangunan infrastruktur, pengolahan sumberdaya maritim, pertahanan, segalanya kini serba maritim.

Saat ini pada konteks ASEAN Community (Masyarakat Ekonomi ASEAN), menurut Prof Yanyan, Indonesia memiliki posisi strategik yang hendak diperebutkan banyak pihak, bahwa jumlah penduduk Indonesia hampir 50% jumlah penduduk negara-negara ASEAN. “Tidak akan ada ASEAN kalau tidak karena Indonesia” demikian dinyatakan Prof Yanyan.

Perkembangan ASEAN yang kini telah menjadi bagaikan ‘perempuan cantik’, telah menarik minat berbagai negara internasional lain untuk bekerja sama dengan ASEAN, sebut saja ada Cina, Amerika Serikat, Rusia, Jepang, India, Korea Selatan, dan Eropa. “Kini pusat dunia tidak lagi Amerika ataupun Eropa, tetapi sudah berada di ASEAN”.

Sekalipun ASEAN kini mempunyai posisi strategik yang telah menarik banyak negara internasional, tetapi pada sisi lain justru berpotensi menjadi masalah yang perlu dicermati dan diwaspadai. Indonesia saat ini mempunyai potensi ancaman lepasnya 12 pulau ke pihak asing, belum lagi posisi geopolitik Indonesia yang merupakan poros dari ASEAN, telah menjadi ‘perebutan’ sejumlah negara maju.

Pemberian bantuan dana pinjaman ataupun bantuan dana lainnya, perlu diwaspadai agar dimasa mendatang tidak menjadi masalah krusial, sebagaimana dialami Srilanka. Perjanjian hutang luarnegeri Srilanka dengan Cina untuk pembangunan pelabuhan, ternyata ada klausul  yang memberikan peluang bagi Cina untuk menguasai 1/3 dari wilayah pelabuhan tersebut untuk kepentingan militer Cina, dan disana akan berlaku hukum negara Cina selama 30 tahun.

Paparan mengenai ASEAN yang dikemas juga dengan penjelasan peluang pekerjaan dan karir, membuat ratusan mahasiswa FISIPOL UKI menikmati kuliah umum hingga selesai. Beberapa mahasiswa. Pada akhir perkuliahan umum siang tadi, Prof Yanyan membagikan sejumlah buku karyanya kepada mahasiswa yang bertanya. (DPT)

Advertisement