Skip to content Skip to navigation

KINERJA PERUSAHAAN DIANGGAP MEMBURUK, KARYAWAN DAN PILOT GARUDA INDONESIA AKAN MOGOK

Serikat Karyawan dan Asosiasi Pilot Garuda akan mogok

Kisruh internal yang terjadi pada PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk, telah cukup lama terjadi, setidaknya sejak Januari 2018 telah terjadi aksi protes dari Serikat Karyawan.

Kemarin Rabu (2 Mei 2018) bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Serikat Karyawan PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk bersama dengan Asosiasi Pilot Garuda, tergabung dalam Serikat Bersama (Sekber), menggelar jumpa pers dikawasan Senayan Jakarta Pusat.

Pada jumpa pers tersebut disampaikan sejumlah data perkembangan kondisi riil PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Serikat Karyawan Garuda Indonesia dan Asosiasi Pilot Garuda Indonesia, berdasarkan berbagai data perkembangan bisnis dan manajerial PT Garuda Indonesia, menyimpulkan telah terjadi kegagalan manajemen dalam BUMN tersebut. Hal ini disebutkan terjadi dikarenakan :

1. Kegagalan dalam perubahan sistem penjadwalan crew yang diimplementasika pada bulan November 2017, sehingga menyebabkan sejumlah pembatalan dan penundaan penerbangan, mencapai puncaknya pada awal Desember 2017. Hal ini masih terus terjadi hingga saat ini. Penanggung jawab dalam hal ini adalah Direktur Marketing dan Teknologi Informasi (IT).

2. Jabatan Direktur Kargo sangat tidak diperlukan, karena sebelumnya unit kargo hanya dipimpin oleh pejabat setingkat Vice President. Hal ini dikarenakan Garuda Indonesia tidak memiliki pesawat khusus kargo (freighter aircraft). Dengan dipimpin oleh seorang Direktur sejak 2016, kinerja Direktorat Kargo tidak meningkat dan hanya ada peningkatan biaya operasional.

3. Bahwa peningkatan pendapatan usaha penjualan tiket penumpang tidak mampu mengimbangi beban usaha karena ketidakmampuan Direktur Marketing dan IT dalam membuat strategi penjualan produk. Hal ini dapat dilihat pada penurunan rata-rata harga jual tiket (passanger yield) penumpang pada tahun 2017 dibandingkan 2016.

4. Nilai saham Garuda Indonesia (GIAA) yang terus merosot dari harga saat IPO tanggal 26 Januari 2011 sebesar Rp. 750 hingga saat ini dengan harga penutupan tanggal 25 April 2018 pada nilai Rp. 250 per lembar saham.

5. Direktur Personalia banyak mengeluarkan peraturan perusahaan yang bertentangan dengan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) tanpa berunding dengan serikat pekerja, sehingga menimbulkan perselisihan dan berakibat pada suasana kerja yang tidak kondusif sehingga dapat berdampak pada penurunan safety.

Serikat Bersama (Sekber) karyawan dan Pilot Garuda Indonesia, dalam hal ini meminta kepada Presiden dan Meneg BUMN/Pemegang Saham PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk untuk segera :

1. Merestrukturisasi jumlah Direksi PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk dari 8 orang menjadi 6 orang dengan berpedoman pada peraturan penerbangan sipil Republik Indonesia/Civil Aviation Safety Regulation.

2. Melakukan pergantian Direksi dengan mengutamakan profesional dibidang penerbangan yang berasal dari internal PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk, karena lebih memahami permasalahan yang terjadi di perusahaan.

Bila permintaan tersebut tidak terpenuhi, Sekber akan melakukan mogok pada waktu yang nanti ditentukan kemudian.

Demikian pernyataan sikap yang ditandatangani oleh Ketua Umum SEKARGA Ahmad Irfan Nasution, Presiden Asosiasi Pilot Garuda Capt. Bintang Hardiono. (BT/DPT)

Advertisement