Skip to content Skip to navigation

INDO BAROMETER RILIS SURVEY PILKADA JATIM, QUDHORI : FIGUR CAWAGUB DAN MESIN POLITIK AKAN MENJADI PENENTU KEMENANGAN

Pelaksanaan Pilkada Provinsi Jawa Timur sebagai bagian dari Pilkada serentak, akan diadakan pada 27 Juni 2018, KPU Provinsi Jawa Timur telah menetapkan dua pasangan calon peserta Pilkada Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Jawa Timur. Kedua paslon yang akan bertanding dalam pilkada nanti adalah Khofifah Indar Parawansa - Emil Dardak, dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) - Puti G. Soekarnoputri.

Berdasarkan penelusuran Gerejani Dot Com, persaingan antar paslon pilkada Jatim cukup ketat. Hal ini dapat dilihat dari dukungan saat pencalonan, sebagai berikut :

Paslon nomer urut 1. Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak, mempunyai dukungan koalisi enam partai politik, yakni Demokrat (13 kursi DPRD), Golkar (11 kursi), Nasdem (4 kursi), PPP (5 kursi), Hanura (2 kursi) dan PAN (7 kursi). Total 42 kursi DPRD.

Sementara paslon nomer urut 2. Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarnoputri, didukung koalisi empat partai, yaitu PKB (20 kursi DPRD Provinsi), PDI-P (19 kursi), PKS (6 kursi) dan Gerindra (13 kursi). Total 58 kursi DPRD.

Selisih jumlah dukungan mesin politik yang relatif 'tipis', mengindikasikan potensi persaingan ketat diantara keduanya. Hal ini pun tercermin dalam survey yang diadakan oleh Indo Barometer.

Indo Barometer siang tadi (Selasa 3 April 2018) bertempat di Hotel Harris FX Sudirman Jakarta, merilis hasil survey yang bertajuk "Dinamika Politik dan Proyeksi Pilkada Jawa Timur", survey dilaksanakan pada 29 Januari - 4 Februari 2018. Penyampaian hasil survey tersebut, juga mengundang hadir perwakilan koalisi partai pengusung, yakni M. Sarmudji (Partai Golkar, mewakili Paslon Nomer urut 1 Khofifah - Emil, dan Bambang DH (PDI Perjuangan, mewakili Paslom Nomer urut 2 Gus Ipul - Puti Soekarnoputri.

M.Qudhori selaku Direktur Eksekutif Indo Barometer, menjelaskan hasil survey lembaganya dalam 21 kategori, termasuk keterkaitannya juga dengan Pilpres 2019. Qudhori menjelaskan bahwa dari sekian data hasil survey lembaganya, mengindikasikan adanya persaingan yang ketat antar paslon, sekalipun posisi Gus Ipul yang saat ini masih menjabat Wakil Gubernur, dianggap bagian dari petahana (incumbent).

Ketatnya persaingan secara khusus, lanjut Qudhori, terjadi antar Calon Gubernur, Khofifah dan Gus Ipul. Elektabilitas Khofifah 34,1 %, dan Gus Ipul 43,1 %. Bila pillkada diadakan hari ini (saat survey dilaksanakan), Khofifah mendapat dukungan 40,8 %, sedangkan Gus Ipul meraih 46,6 %. Sementara simulasi keterpilihan sebagai paslon, paslon Khofifah - Emil memperoleh 39,5 %, dan paslon Gus Ipul - Puti Soekarnoputri mendapat 45,2 %.

Mencermati adanya head to head persaingan yang ketat, Qudhori mengemukakan analisis potensi pemenangan. "Melihat ketatnya persaingan yang ada, penentu kemenangan ada pada figur Cawagub, dan juga kemampuan mesin politik partai". Qudhori, lebih lanjut menanggapi pertanyaan tentang adanya kemungkinan praktek politik uang sebagai faktor penentu pemenangan. Qudhori menampik bahwa politik uang tidak akan dijadikan pilihan penentu pemenangan, mengingat besaran jumlah pemilih sekitar 31 juta orang, dan dengan 38 daerah tingkat dua.

Sarmuji dari Partai Golkar menanggapi hasil survey dan kajian Indo Barometer, dia mengemukakan bahwa dari kajian sejumlah hasil survey, ada tren kenaikan dukungan kepada Khofifah (paslon Khofifah - Emil). Sementara Bambang DH dari PDI Perjuangan, berpendapat sekalipun hasil survey mengindikasikan tingginya dukungan pemenangan paslon Gus Ipul - Puti Soekarnoputri, mesin politik memang belum maksimal bekerja, tetapi masih ada waktu untuk memaksimalkan. (DPT)

Advertisement