Skip to content Skip to navigation

HARI PENDIDIKAN NASIONAL : MENGENANG DR. TODUNG SUTAN GUNUNG MULIA HARAHAP, MENTERI PENGAJARAN KE-2

Todung Sutan Gunung Mulia Harahap

Berbicara mengenai Menteri Pendidikan Nasional, ingatan mungkin akan segera meluncur kepada Ki Hajar Dewantara, Menteri Pendidikan pertama sekaligus Bapak Pendidikan Indonesia.

Mungkin kita juga akan mengingat Sumantri Brojonegoro atau Fuad Hasan, keduanya Menteri Pendidikan masa pemerintahan Soeharto. Lebih terkini, ada Muhadjir Effendy yang tengah menjabat. Atau, Muhammad Nuh yang menjadi Menteri pada Kabinet Indonesia Bersatu II. Lalu, Anies Baswedan yang kini menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Namun, tak banyak yang mengingat Todung Sutan Gunung Mulia Harahap, Menteri Pendidikan Nasional kedua yang dimiliki Tanah Air. Pria kelahiran 21 Januari 1896 di Padang Sidempuan, Sumatra Utara ini menjabat sebagai Menteri Pengajaran pada 14 November 1945 hingga 12 Maret 1946 pada Kabinet Syahrir I.

Masa jabatannya memang terbilang singkat. Jejak yang ia tinggalkan saat menjabat Menteri Pengajaran pun tak banyak terekam. Mulia disebutkan mengambil kebijakan untuk meneruskan kebijakan Menteri sebelumnya, Ki Hajar Dewantara, di bidang kurikulum berwawasan kebangsaan.

Pada masa awal kemerdekaan ini, kurikulum disusun untuk membangun identitas diri sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat. Karena itu tidaklah berlebihan jika instrukri menteri saat itu pun berkaitan dengan upaya memompa semangat perjuangan dengan mewajibkan sekolah untuk mengibarkan Sang Merah Putih setiap hari di halaman sekolah dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Selain melanjutkan kurikulum berwawasan kebangsaan, Mulia juga memiliki program untuk memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan. Juga menambah jumlah pengajar yang masih sangat minim pada masa itu.

Namun, di luar rekam jejaknya saat menjadi Menteri Pengajaran, sesungguhnya sumbangsih Mulia pada dunia pendidikan sangat besar. Tak heran jika ia disebut sebagai tokoh nasional pemerhati pendidikan.

Keterlibatan Mulia pada dunia pendidikan sesungguhnya dimulai sejak ia belia. Menurut Ensikopedia Umum terbitan Kanisius (1973), pada masa pendudukan Belanda, Mulia pernah menjadi guru sekolah rendah di Kotanopan, Sumatra. Ia pun pernah menjadi guru kursus Hoofdacte di Bandung.

Martin Lukito Sinaga dalam buku Merayakan Kebebasan Beragama: Bunga Rampai Menyambut 70 Tahun Djohan Effendi, (Penerbit Kompas, 2009) menyebutkan Mulia mulai mengajar pada usia 23 tahun, sekembalinya ia dari menuntut ilmu ke negeri Belanda. Mulia sendiri mulai belajar di Universitas Leiden di Belanda pada usia 15 tahun.

Empat tahun sejak melepas jabatan sebagai Menteri Pengajaran, Mulia bersama beberapa tokoh Kristen Indonesia tergerak untuk mendirikan Dewan Gereja di Indonesia (DGI), cikal bakal Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).

Organisasi baru ini sesungguhnya tak hanya memperhatikan kehidupan beragama saja, namun memiliki perhatian dan keinginan untuk berpartisipasi dalam dunia pendidikan di tanah air. Mulia sendiri dipercaya sebagi ketua pertama DGI.

Berbagai diskusi yang digelar di organisasi ini mengerucut pada keinginan untuk mendirikan sebuah universitas. Atas dasar itulah, DGI lantas membentuk sebuah komisi yang dipimpin oleh IP Simanjuntak. Komisi ini bertugas untuk membuat sebuah studi kelayakan tentang pendirian universitas.

DGI lantas mengeluarkan resolusi mengenai Universiteit Kristen pada 30 Juni 1953. Resolusi ini mengusulkan kepada semua gereja dan masyarakat Kristen di Indonesia untuk membantu sepenuhnya pendiran Universiteit Kristen.

Berangkat dari resolusi tersebut, beberapa tokoh Kristen Indonesia, termasuk Mulia, atas nama DGI lantas mendirikan Yayasan Universitas Kristen Indonesia pada Juli 1953. Tiga bulan kemudian, tepatnya 15 Oktober 1953, Universitas Kristen Indonesia (UKI) resmi berdiri.

Mulia menjabat sebagai guru besar pada Universitas Darurat RI dan Universitas Indonesia. Tepatnya pada saat ia berusia 55 tahun.

Lewat DGI pula, Mulia memandang perlu memajukan literatur khususnya di kalangan umat Kristen. Pada tahun yang sama dengan berdirinya DGI, berdiri pula Badan Penerbit Kristen yang disingkat BPK. Penerbit baru ini berencana untuk menerbitkan buku-buku dan buklet dalam Bahasa Indonesia.

BPK pun menjadi bagian dari DGI, dengan tugas meningkatkan produksi dan mendistribusikan literatur Kristen dalam Bahasa Indonesia, juga mempublikasikan bacaan-bacaaan Kristen lainnya.

Mengingat besarnya peran Mulia dalam mengembangkan BPK, namanya pun lantas disematkan di sana. Tahun 1971, BPK resmi beralih nama menjadi Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia. Kini, BPK Gunung Mulia tak lagi menjadi bagian dari DGI dan telah berdiri menjadi Lembaga mandiri.

Jejak Mulia tak hanya berupa BPK. Di tahun 1950 pula, para tokoh Kristen mulai memandang penting kemandirian dalam pengadaan dan penyebaran Alkitab.

Karena itu, di tahun berikutnya, prakarsa untuk mendirikan Lembaga Alkitab Nasional yang mandiri pun dimulai.

Prakarsa ini baru mewujud pada 9 Februari 1954, yaitu pada saat penandatanganan Akta Notaris pendiran Lembaga Alkitab Indonesia sebagai yayasan. Mulia didapuk sebagai ketua yayasan baru ini.

LAI kemudian menerjemahkan, menerbitkan dan menyebarkan Alitab dan bagian-bagiannya dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa-bahasa daerah lainnya.

Peran LAI ini sejalan dengan keinginan Mulia sejak ia mengikuti konferensi Pekabaran Injil se-Dunia yang digelar di Yerusalem pada 1928. Pada saat itu, Mulia bertemu dengan seorang tokoh Kristen bernama Hendrik Kraemer.

Perbincangan dengan Kraemer menumbuhkan benih keinginan untuk memperluas jaringan pendidikan Kristen, memperbanyak dan menerjemahkan Alkitab, serta mendirikan organisasi politik untuk menampung suara umat Kristen di dunia politik.

Khusus untuk urusan politik ini, Mulia mendirikan Partai Kristen Indonesia (Parkindo).

Berbagai pengalaman Mulia di dunia pendidikan, tak heran kemudian ia dipercaya sebagai pemimpin redaksi Ensiklopedia Indonesia pada 1955. Ini adalah ensiklopedia pertama yang diterbitkan dalam Bahasa Indonesia. Tiga jilid ensiklopedia ini diterbitkan oleh W van Hoeve, Bandung.

“Kami harap dengan sepenuh-penuhnya bahwa dengan terbitnya Ensiklopedia Indonesia yang pertama ini telah dapat disiapkan suatu alat sebagai yang dimaksudkan tadi dan yang akan membawa manfaat bagi perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia seluruhnya,” demikian pengantar redaksi pada Ensiklopedia tersebut.

Tak hanya menjadi redaksi penyusunan ensiklopedia, Mulia juga seorang penulis. Salah satu buku yang ia tulis adalah India (1949), yang menjelaskan sejarah politik dan pergerakan kebangsaan Negeri Anak Benua itu.

Kerja nyata Mulia rupanya diakui hingga mancanegara. Pada 20 Oktober 1996, Vrije Universiteit di Amsterdam, Belanda, menganugerahkan gelar Doctor honoris causa dalam ilmu theologia kepada Mulia.

Namun, Mulia tak sempat menjejakkan kaki ke Indonesia usai menerima penghargaan tersebut.

Kurang dari sebulan kemudian, Mulia menghembuskan nafas terakhir di Amsterdam.

Jenazahnya lantas diterbangkan ke tanah air dan dikebumikan di Jakarta. (sumber: validnews.co)

Advertisement