Skip to content Skip to navigation

GMKI DAN KPK BIKIN SEKOLAH PENGGERAK ANTI KORUPSI

Jelang akhir periode kepengurusan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, PP GMKI masa bakti 2016-2018 dibawan kepemimpinan Ketua Umum Sahat M.P Sinurat, dan Sekretaris Umum Alan Singkali, membuat gebrakan menggelar pendidikan kader anti korupsi.

Program pendidikan kader anti korupsi GMKI berjudul "Sekolah Penggerak Anti Korupsi", dilaksanakan bekerjasama dengan KPK RI. Kegiatan ini dilaksanakan di gedung KPK C1, pada hari Jumat, 27 Juli - Minggu, 29 Juli 2018. Peserta yang hadir sebanyak 33 orang dari berbagai cabang GMKI setanah air.

Sekolah Penggerak Anti Korupsi yang dilakukan merupakan langkah progresif dalam mengurangi pikiran koruptif. Diharapkan GMKI nantinya dapat mengedukasi tentang budaya korupsi mulai dari pemuda gereja, komunitas, bahkan di masyarakat.

Dodi Lapihu Sekfung PKK PP GMKI yang merupakan koordinator kegiatan mengatakan, pemuda dan mahasiswa adalah penggerak peradaban. konteks hari ini bahwa masih tinggi angka permisif mahasiswa dan pemuda terhadap perilaku koruptif. Oleh karena itu PP GMKI menginisiasi kegiatan Sekolah Penggerak Anti Korupsi untuk membentuk fasilitator anti korupsi yang berintegritas.

“Dapat dibayangkan bila semua organisasi keagamaan mahasiswa melakukan hal yang serupa. Kita yakin bahwa proses pendidikan, sosialisasi, dan kampanye antikorupsi yang merupakan amanat Undang Undang KPK akan sangat efektif dilakukan,” ujar Dodi.

KPK mengapresiasi program Sekolah Penggerak Anti Korupsi GMKI, hal ini disampaikan Ramah Handoko, Kasatgas Tim Community Development Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Kedeputian Pencegahan KPK RI, “Apresiasi besar kami berikan kepada GMKI karena organisasi pertama dalam melaksanakan sekolah anti korupsi yang bekerjasama dengan KPK RI. semoga kegiatan ini menjadi awal yang baik buat GMKI dan KPK. Semoga adanya sekolah ini, GMKI bisa membantu KPK memerangi virus korupsi".

Lebih lanjut Ramah Handoko, menjelaskan bahwa korupsi tidak hanya persoalan penyelewengan ataupun penggelapan uang atau barang lainnya. Ketidakdisiplinan juga merupakan korupsi yang sudah mendarah daging, misalnya menerobos lampu merah, menggunakan alat-alat kantor untuk kepentingan pribadi, dan lain-lain.

"Kebiasaan ini harus kita ubah secara perlahan dan pasti supaya kita hidup disiplin tanpa korup," tegas Rama Handoko.

Handoko berpendapat bahwa keterlibatan pemuda dalam gerakan antikorupsi sudah pada taraf urgensi. Kenyataan pahit, dimana para pelaku korupsi dilakukan oleh oknum pemimpin daerah dan pejabat negara yang relatif berumur muda. Harus menjadi warning yang serius untuk kita hadapi dan tanggulangi.

“Bila melihat ke sejarah, bangsa ini ditopang oleh kearifan budaya dan kepercayaan terhadap agama yang sangat kental. Aneh bila negeri ini memunculkan banyak oknum kepala daerah dan pejabat negeri yang korup. Karena sejatinya, semua warisan budaya negeri ini ditambah dengan nilai-nilai agama, harusnya mampu membuat negeri ini lebih baik dari sekarang.

“Integritas adalah hal yang harus kita perjuangkan dalam hidup ini. Supaya segala godaan yang memungkinkan kita melakukan korupsi dapat kita lawan dan hentikan,” tegas Handoko. (DPT)

Advertisement