Skip to content Skip to navigation

AR BASWEDAN, KAKEKNYA ANIES R BASWEDAN, RESMI MENJADI PAHLAWAN NASIONAL

Jelang peringatan Hari Pahlawan 10 November, pemerintah telah memberikan anugerah Pahlawan Nasional, kepada Abdurrahman Baswedan, seorang tokoh nasional pejuang kemerdekaan keturunan Arab, yang memperjuangkan pengakuan negara lain untuk mengakui kemerdekaan Indonesia, khususnya melalui jalur diplomat.

Abdurahman Baswedan, akrab disebut A.R Baswedan, pada tahun 2018 ini dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis kemarin (8 November 2018).

Informasi mengenai A.R. Baswedan, sebagaimana didapat dari berbagai sumber, disebutkan lahir di Surabaya, Jawa Timur, 9 September 1908, meninggal di Jakarta, 16 Maret 1986 pada umur 77 tahun. Dia seorang pejuang kemerdekaan, semasa hidupnya dikenal sebagai seorang nasionalis, jurnalis, politisi , diplomat, muballigh, dan juga sastrawan Indonesia.

A.R. Baswedan pernah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir, Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen, dan Anggota Dewan Konstituante. A.R. Baswedan juga salah satu diplomat pertama Indonesia, yang berhasil mendapatkan pengakuan de jure dan de facto pertama bagi eksistensi Republik Indonesia dari Mesir.

A.R. Baswedan menikah dengan Syaikun. Pada tahun 1948 Syaikun meninggal dunia di Kota Surakarta karena serangan malaria. Tahun 1950 A.R. Baswedan menikah lagi dengan Barkah Ganis, seorang tokoh pergerakan perempuan, di rumah KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta, Muhammad Natsir bertindak sebagai wali dan menikahkan mereka. Dia dikarunia 11 anak dan 45 cucu.

Berdasarkan buku "Abdul Rahman Baswedan : Karya dan Pengabdiannya", ditulis oleh Sutarmin (diambil dari Google Books), berikut anak-anak dari A.R Baswedan : jumlah anak 11 orang, 9 orang lahir dari Syaikun, sedang 2 orang dari istrinya yang bernama Barkah. Kesemua anaknya itu ialah : (l) Anisah, lahir di Surabaya 22 Desember 1926, (2) Aliyah, tinggal di Kebonan, Solo, (3) Fuad, di Jakarta, (4) Drs. Awad Rhasyid Baswedan, dosen Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta, (5) Hamid, tinggal di Cirebon, (6) Atikah, tinggal di Solo, (7) Nur, tinggal di Gandekan Kiwa, Sala, (8) Imlati, lahir menjelang proklamasi di Jakarta tahun 1945. Nama Imlati ini dari singkatan Indonesia Merdeka Lekas Akan Tercapai Insya Allah, (9) Lukyana, tinggal di Surabaya. "Lukyana" maknanya perjumpaan kita. Nama ini berhubung
tibanya kembali A.R. Baswedan dari kunjungan ke Mesir selama 5 bulan, memperjuangkan pengakuan de jure bagi RI Maret 1947, (10) Dokter Havied Natsir Baswedan. Havied di sini berarti cucu,
sedang Natsir ini sebagai kenangan untuk anaknya, karena waktu kawin dengan Barkah, bertindak sebagai walinya adalah Moh. Natsir, dan (11) Ahmad Samhari, dokter sekarang bekerja pada UNICEF di Jakarta."

Anies R. Baswedan Gubernur DKI Jakarta adalah cucu dari A.R. Baswedan, putra dari anak ke-4 A.R Baswedan, Awad Rhasyid Baswedan, kini menjadi cucu seorang Pahlawan Nasional. Anies bersama sejumlah keluarga besar A.R Baswedan, kemarin hadir di Istana Negara, dalam rangka mengikuti prosesi pemberian gelar anugerah Pahlawan Nasional.

Anies mengungkapkan rasa syukur dan apresiasi terhadap penganugerahan gelar Pahlawan Nasional tersebut, sebagaimana terlihat dalam laman media sosialnya, Twitter dan Instagram.

Cuitan Anies di Twitter, mengemukakan bahwa proses pemberian anugerah gelar Pahlawan Nasional kepada A.R. Baswedan, diawali pada 2011.

"Kami sampaikan apresiasi dan terima kasih ke semua pihak yang terlibat dalam proses pengusulan dari Yogya di tahun 2011 hingga pemerintah menganugerah-kan gelar Pahlawan Nasional kepada A.R. Baswedan", demikian cuitan Anies kemarin (8 November 2018).

Twitter Anies Baswedan yang memiliki pengikut (follower) sebanyak 2.363.327, marak dengan berbagai ucapan selamat atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional tersebut.

Cuitan Anies yang lainnya, seperti "Siang tadi bersama seluruh keluarga diundang ke Istana Negara untuk menghadiri prosesi penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kakek kami, A.R. Baswedan".

Anies juga menuliskan pengalaman semasa kecil, tinggal serumah bersama kakeknya tersebut di Yogyakarta. Setiap pulang dari TK atau sekolah, diajak berjalan kaki dari Jl. Dagen ke Kantor Pos Besar untuk mengirim surat atau tulisan ke surat kabar. Tiada hari tanpa menulis.

"Sejak SD saya sering jadi juru ketik. Beliau bicara, saya mengetik. Di akhir surat, beliau selalu bilang: "Surat ini diketik oleh cucu saya, Anies." ujar cuitan Anies yang lainnya. Bersyukur sekali saya tumbuh dan berinteraksi dengan beliau sampai dengan masa SMA, ungkap Anies. (DPT)

Advertisement